Headline

Menyoal Stigma Radikal Dan Tudingan Afiliasi Terhadap HTI


Oleh : Akmal Kamil Nasution, S.H.*
Apa yang dilakukan Kemenristekdikti pasti bukan tanpa tujuan dan diduga kuat tidak berdiri sendiri. Teror, intimidasi dan persekusi terhadap kawan-kawan Sivitas Akademika sebagaimana yang dialami oleh Prof Dr Suteki, SH, MHum, Prof Daniel M. Rosyid PhD, M. Rina dan Mahasiswa yang dituduh radikal dan terafiliasi dengan HTI dapat mengarah kepada pembungkaman suara kritis Islam politik dan menjauhkan Sivitas Akademika dari ide Khilafah yang lantang disuarakan oleh HTI.
Pasalnya ide Khilafah sudah begitu luas diterima kalangan kampus. Adapun dari segi motif dapat diduga sebagai upaya membantu penjajah Kapitalisme untuk memperlambat berdirinya Khilafah yang merupakan momok menakutkan bagi penjajah ditengah usangnya demokrasi yang mereka tawarkan.
Terkait dengan stigma Radikal yang merupakan bagian dari perang terhadap radikalisme sudah dapat dipahami oleh umat dengan gamblang adalah upaya tipu-tipu penjajah yang sejatinya adalah perang terhadap Islam, sebab pada faktanya stigma radikal itu lebih di alamatkan kepada Islam dan kaum muslimin. Sementara dengan jelas di timur sana berdiri OPM dan RMS tapi kenapa mereka tidak di cap radikal ? dan kenapa tidak dipersekusi sebagaimana HTI dan kawan-kawan Sivitas Akademika?
Apabila logika berfikir di balik, jika ada tindakan membawa senjata keranah Kampus, menuduh radikal dengan tafsir sepihak, memberikan nestapa (hukuman) dengan mengabaikan argumentasi rasional pihak yang dihukum bukankah itu tindakan radikal ? dan kalau pertanyaannya diperluas, bukankah itu tindakan otoriter ? Dan jika diarahkan pada sosok, bukankah MENRISTEKDIKTI represif ? Pertanyaan ini penting dijawab dengan jujur oleh semua pihak.
Terkait dengan tuduhan terafiliasi dengan HTI, apakah salah kawan-kawan Sivitas Akademika berinteraksi dengan dakwah yang diemban HTI ? Berdiskusi tentang Khilafah ? apakah salah kawan-kawan Sivitas Akademika dan HTI menginginkan agamanya tegak lurus di negeri ini ? apakah salah kawan-kawan Sivitas Akademika bersama HTI menginginkan penjajah hengkang dari negeri ini ?
Memangnya apa yang salah dari HTI ? HTI itu bukan organisasi teroris, HTI istiqomah mencontoh perjuangan Nabi Muhammad SAW dengan dakwah pemikiran dan tanpa mengangkat senjata, HTI juga bukan sarang koruptor, jangankan korupsi menerima uang dari pemerintah satu rupah saja tidak pernah bagaimana logikanya dikatakan sarang koruptor ? HTI tidak pernah menggadaikan negeri ini kepada penjajah, HTI tidak pernah menjual aset negera, lantas apa yang salah dari HTI ?
Maka jelaslah kesalahan HTI itu tidak ada, jawaban ini kalau menggunakan kacamata kebenaran, terkecuali kalau menggunakan perspektif penjajah, HTI itu pasti salah, salahnya karena HTI mengusung ide Islam Khilafah yang akan menghentikan semua agenda penjajahan di negeri ini.
Apa yang dilakukan oleh kawan-kawan Sivitas Akademika dan juga HTI adalah haknya, bahkan hak asasinya (hak konstitusional) Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat dan berkumpul, dan mengeluarkan pendapat” dan Pasal 5 UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum yang merupakan hak yang sama kepada warga negara untuk mengeluarkan pikiran secara bebas sekaligus memperoleh perlindungan hukum.
Pertanyaannya adalah apakah hak-hak kawan-kawan Sivitas Akademika dan HTI itu ingin dikangkangi oleh Rezim ini ? bukankah itu melanggar HAM ? maka oleh karena itu sudah sepatutnya KOMNASHAM RI untuk melakukan tindakan kongkrit dengan memanggil, memeriksa dan menyelidiki MENRISTEKDIKTI, kalau tidak maka akan memperkuat argumentasi selama ini yang menyatakan bahwa ide HAM itu senjata standar ganda penjajah, tajam kepada Islam dan umat Islam sementara tumpul terhadap kepentingan penjajah.
Bulan suci Ramadhan ini janganlah di nodai dengan intimidasi, teror dan persekusi sungguh besar dosanya disisi Allah SWT, setiap bahaya kezaliman pastinya akan menyerang balik pembuatnya dan biasanya balasannya dunia akhirat, di dunia balasannya perih di akhirat apalagi. Takutlah terhadap do’a Prof Dr Suteki, SH, MHum, Prof Daniel M. Rosyid PhD, M. Rina, dosen dan Mahasiwa yang di zalimi apalagi kalau mereka berdo’a di bulan puasa dan ketika mereka sedang berpuasa atau ketika mereka sedang mendapatkan lailatul qodar do’a mereka mustajab alias makbul.
Ketika mereka mendoakan agar segera kembali kejalan yang benar itu tidak masalah, tapi kalau mereka mengutuk atau melaknat dan mendoakan keburukan, mau mencari perlindungan kemana lagi ?
Semua ini harus segera dihentikan, tindakan otoriter, adigang adigung adiguno, menyebar teror dan ancaman tidak boleh terus dibiarkan. Menristekdikti harus mundur, jika tidak otoritas yang berada diatasnya wajib segera mencopotnya.
Wallahu A’lam.
*LBH Pelita Umat Korwil Kepri