Headline

PERJUANGAN MASIH PANJANG, UMAT TIDAK BOLEH LENGAH DAN LELAH [Catatan Aksi Bela Mujahid 212 di Bekasi]


Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua LBH PELITA UMAT
Penulis merasa bersyukur, lega dan gembira dengan antusiasnya peserta aksi dalam aksi bela Suherman dan Shodiqin, MUJAHID 212. Terlihat beberapa ormas di bekasi yang hadir, peserta Ikhwan dan akhwat, orang tua dan anak-anak juga memadati area masjid Al Barkah kota bekasi.
Hitungan penulis, tak kurang seribuan perserta memenuhi seruan aksi. Aksi yang sedianya diadakan didepan Polresta metro kota bekasi, digeser ke alun-alun kota bekasi. Karena di hamparan lahan luas, peserta terlihat mengempis.
Beberapa peserta sempat komplain dan ingin tetap aksi didepan Polresta. Namun, karena menghargai arahan polisi, akhirnya peserta mengikuti skenario yang diarahkan polisi.

Beberapa tokoh dari berbagai Ormas silih berganti memberikan orasi atas maraknya ketidakadilan yang dipertontonkan Penyelengara negara dan penegak hukum di negeri ini. Hukum yang tajam dan terhunus untuk umat Islam, hukum yang tumpul dan tak bertaji untuk menebas para Penista agama.

Para orator dari perwakilan LBH PELITA UMAT juga nampak berorasi silih berganti, ada Rizky Fatamazaya Munthe, SH MH selaku direktur pembelaan umum LBH PELITA UMAT, ada Farid Syahbana, SH selaku dari LBH Korwil Banten, bahkan hadir pula Akmal Kamil Nasution SH dari Korwil Kepri hadir memberikan orasi. LBH menyoroti betapa tidak adilnya perilaku penegakan hukum terhadap Suherman, yang diproses secara tegas setelah sehari sebelumnya ada laporan dari pendeta Johanes Nur.
Sementara itu perwakilan aksi beraudiensi menemui Kombes Pol. Indarto selaku Kapolres Kota Bekasi. Ada Bang Damin Sada dari Jajaka (Jawara Jaga Kampung Jaga Agama), Ust. Irwan Syaifulloh dari PA 212, Ust Abu Hanifah, Ust Miqdad Ali Azka dan perwakilan dari pondok pesantren Al Khoirot bekasi.
Kami selaku juru bicara aksi menyampaikan keluhan-keluhan umat Islam. Keluhan atas ketidakadilan, keluhan atas perlakuan yang berbeda, keluhan atas kezaliman, keluhan atas berbagai musibah yang ditimpakan kepada umat Islam.
Kami juga sampaikan umat Islam bisa marah, jika selalu diperlakukan tidak adil. Pada batas tertentu, jika saluran aspirasi ini macet, bisa saja umat Islam menyampaikan aspirasi melalui caranya sendiri.
Pada kasus Suherman juga disampaikan keluhan dan rasa marah karena proses hukum yang tidak adil. Atas dasar apa polisi tidak mengabulkan penangguhan ? Subjektifitas penyidik macam apa yang dipertahankan ? Jika khawatir akan lari, mengulang pidana atau menghilangkan barang bukti, bukankah sudah ada penjaminan ?
Jika umat Islam diminta percaya pada proses dan prosedur hukum yang ditangani polisi, bukankah umat Islam juga sah dan berhak meminta polisi menghargai jaminan yang diberikan keluarga ? Jaminan dari ulama dan tokoh ? Jaminan dari umat Islam ? Jika jaminan itu diberikan, tapi penangguhan tak kunjung diputuskan, lantas dimana letak keadilannya ?
Ust Irwan Syaifullah menekankan agar polisi bertindak adil, sebab jika zalim khawatir Allah SWT mengirimkan bala tentara untuk membalas sakit hati kaum muslimin. Bala tentara itu bisa berupa serangan stroke, kangker, jantung koroner, diabetes, dan berbagai penyakit kronik yang bisa ditimpakan kepada aparat penegak hukum yang zalim.
Ust Miqdad menambahkan betapa Suherman adalah orang biasa, tidak terkait politik, mengenal suherma sejak 10 tahun yang lalu. Diceritakan betapa hebat tekanan yang dialami istri Suherman dari preman-preman kampung yang terus meneror pasca suaminya dipenjara.
Ust Abu Hanifah mengingatkan tentang huru hara akhir zaman, dimana Rasulullah berpesan kepada umatnya untuk tidak menjadi polisi atau pejabat yang membantu urusan pemerintahan. Yakni, ketika penguasa berlaku buruk dan berkawan dengan orang-orang buruk. Agar hadits ini belum atau tidak berlaku saat ini, dan agar polisi yang ada sekarang bukan polisi yang diharamkan sebagaimana hadis rasul tersebut, maka beliau menasihati agar polisi berlaku adil.
Adapun perwakilan dari ponpes Al Khoirot, menceritakan siapa Shodikin. Seorang marbot yang baik, banyak membantu pondok pesantren dan disukai banyak kawan dan sahabat. Sejak kasus ini bergulir, semua prihatin.
Audiensi menyampaikan pesan tegas kepada Kapolres agar memberikan penangguhan penahanan dan umat Islam siap menjalani proses hukum. Perwakilan aksi juga meminta tegas kepada kepolisian untuk adil dan segera menindak Victor Laiskodat, Sukmawati, Ade Armando dan Kornelis. Bahkan, ust Irwan Saifullah meminta pesan ini diteruskan kepada Kapolri.
Sebelum berakhir, Kapolresta kota bekasi kombes Indarto akan berjanji segera melakukan gelar perkara untuk menentukan kebijakan penangguhan. Jika pemeriksaan tersangka dirasa cukup dan tidak perlu ditahan, penangguhan bisa dikabulkan. Adapun untuk harus Shodikin berkasnya telah dilimpahkan ke kejaksaan.
Perwakilan aksi setelah selesai beraudiensi dengan Kapolres segera mengejar ke kantor Kejari kota bekasi dan mempertanyakan ihwal Shodikin. Didalam audiensi yang diterima Pak Gusti Ka intel Kejari bekasi, diketahui berkas Shodikin sudah dilimpahkan ke pengadilan per tanggal 24 Juli 2018.
Demikianlah nasib umat Islam, di pingpong, berkasnya cepat dilimpahkan sehingga umat harus mengejar penangguhan Shodikin ke pengadilan. Padahal, berkas dilimpahkan ke kejaksaan baru saja setelah mendapat informasi dari Kapolres.
Hal demikian menunjukan bahwa umat Islam harus tetap waspada, terus mengawal kasus ini agar tidak diremehkan aparat penegak hukum. Umat juga harus mengontrol janji Kapolres yang akan segera memproses gelar perkara dan mempertimbangkan penangguhan. Jika sehabis gelar perkara kasus Suherman bukan ditangguhkan tapi segera dilempar ke kejaksaan sebagaimana kasus Shodikin, maka jelaslah umat Islam dikerjai untuk yang kedua kali setelah itu terjadi pada kasus Shodikin yang segera dilimpahkan padahal sebelumnya umat meminta penangguhan.
Umat wajib siaga, untuk membuat aksi yang lebih besar lagi untuk memperoleh hak hukum dan keadilan. Karena itu wahai penegak hukum, penuhilah hak umat Islam. Jangan bertindak zalim.