Headline

CATATAN IDUL ADHA 1439 H : ADVOKAT MUSLIM WAJIB BERKORBAN UNTUK MEMBELA UMAT



Oleh: Ahmad Khozinudin, SH Ketua LBH PELITA UMAT



Allahu Akbar, Allahu Akabar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akabar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Segenap puji dan syukur bagi Allah, Raab semesta alam yang menyampaikan kita pada hari Idul Adha, hari ini, Selasa 21 Agustus 2018. Kemarin (Senin), jamaah haji di Mekah melakukan wuquf di Arofah, pada saat yang sama kaum muslimin diseluruh penjuru dunia melakukan ibadah puasa Sunnah, puasa Arofah.
Momentum Idul Adha tahun ini, selayaknya menjadi bahan Instrospeksi, sarana muhasabah kita, sebagai advokat muslim, untuk lebih banyak mengorbankan waktu dan pikiran kita, untuk aktivitas membela dan melayani kepentingan umat. Sebagai seorang advokat muslim, Allah SWT telah memberikan amanah profesi, kemampuan, dan status sosial yang berbeda dengan masyarakat umum. Karenanya, beban hukum (taklif) untuk membela dan melayani umat, menjadi beban yang lebih besar berada dipundak para advokat muslim.
Kerdil sekali dan merupakan sikap tidak pantas, jika seorang advokat muslim memberikan kerja pro bono hanya pada batasan minimal 50 jam per tahun. Atas dorongan akidah dan semangat pembelaan umat, selayaknya kita mewakafkan seluruh waktu kita untuk umat. Bahkan, advoksi kepada umat adalah bagian dari aktivitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang telah diwajibkan syara’.
Pengorbanan waktu, tenaga, dan fikiran itu tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Beliau -alaihi salam- diminta Allah SWT untuk mengorbankan putra kesayangan, Nabi Ismail AS. Bagi kita, pengorbanan anak itu tindakan yang luar biasa. Melihat anak sakit, atau panas sedikit saja kita sebagai orang tua begitu panik dan khawatir. Tetapi Nabi Ibrahim diminta menyembelih, dengan tangan beliau sendiri, yang disembelih putra tercinta. Semoga Alllah melimpahkan rahmat pada Nabi Ibrahim AS.
Begitu juga baginda Nabi Muhammad SAW, tidak saja mewakafkan 50 jam setahun waktunya untuk umat, tetapi beliau telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk umat. Bahkan, ketika ajal hendak menjemput beliau, beliau tidak teringat istri, anak atau keluarga. Yang beliau sebut-sebut dan khawatirkan adalah kita, umat Rasul SAW.
Apalagi, ditahun politik ini akan ada kecenderungan penguasa zalim menggunakan instrumen hukum untuk menzalimi rakyat, khususnya yang memiliki preferensi politik berbeda. Sudah menjadi rahasia umum, hukum bukan lagi sarana untuk mencari keadilan. Tetapi hukum telah diselewengkan menjadi alat kekuasaan, alat untuk menekan lawan politik, alat untuk mengkriminalisasi ujaran yang menyudutkan rezim.
Pasal 28 ayat (2) UU ITE tentang kebencian dan SARA, akan marak dan dijadikan pasal langganan yang akan dijadikan sarana untuk mengkriminalisasi umat. Pasal ini telah memakan banyak korban, sedang digunakan untuk memukul lawan politik dan akan menjadi pilihan favorit untuk mengkriminalisasi umat.
Karenanya, selain mewakafkan waktu para advokat muslim juga wajib membangun sinergi dan jaringan sesama aktivis pengemban dakwah Islam. Kezaliman yang ditimpakan kepada umat adalah kezaliman yang terstruktur, sistemis dan massif. Bukan kezaliman parsial dan bersifat insidental.
Jika demikian, tentu harus dihadapi dengan pola Advokasi sinergis, lintas jaringan dan aktivis dan yang paling penting dihadapi dengan perspektif yang sama. Rezim represif anti Islam yang berkuasa saat ini, tidak mungkin memberi ruang kepada umat Islam untuk mengaktualisasikan aspirasi keinginan untuk menerapkan syariat Islam. Rezim hanya berkehendak untuk mengekploitasi, mempolitisasi agama Islam demi elektabilitas dan suara untuk melanggengkan kekuasan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akabar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Karenanya kerja-kerja advokasi membela umat ini tidak boleh mengenal kata lelah, apalagi menyerah. Para advokat muslim wajib berpadu bersama ulama, tokoh, politisi, habaib, mahasiswa, pemuda, dan segenap elemen umat lainnya.
Target advoksi tidak saja mengangkat kezaliman yang ditimpakan kepada umat, atau menghentikan kezaliman yang ditimpakan rezim, tetapi juga ikut serta mengangkat akar kangker masalah kehidupan yang ditimbulkan oleh Sekulerisme liberalisme. Sistem sekuler liberal inilah, pangkal dan bala dari kezaliman. Betapapun berganti rezim, tetapi jika Sekulerisme liberalisme ini tidak dicabut sampai keakarnya, niscaya kezaliman akan tetap meraja lela.
Dengan kata lain, seorang advokat muslim wajib terlibat dalam aktivitas dakwah yang memiliki visi menerapkan syariah Islam secara kaffah. Dakwah inilah, yang akan mampu mencabut Sekulerisme liberalisme sampai ke akar-akarnya.
Alhamdulilah, kesadaran Islam para advokat juga semangat untuk memperjuangkan syariat Islam kian membuncah. Seperti kalangan artis yang sedang dirundung demam hijrah kepada Islam, para advokat muslim hari ini juga mengalami tren yang sama. Semua berawal dari kesadaran akidah dan pemahaman atas realitas yang ada, yang akhirnya membawa kita pada satu kesimpulan : umat Islam hanya bisa bangkit jika kembali pada syariat Allah SWT.
Terakhir, kami segenap pengurus dan anggota LBH PELITA UMAT mengucapkan selamat hari raya Idul Adha 1439 H. Semoga, kita semua mendapat petunjuk dan pertolongan, sehingga hati kita digerakkan oleh Allah SWT, untuk lebih banyak terlibat dalam agenda advoksi yang membela dan melayani urusan umat.