Headline

SIDANG PERDANA SUHERMAN: PENGACARA AJUKAN PERMOHONAN PENANGGUHAN


Bekasi, LBH – PELITA UMAT. Sidang perkara ujaran kebencian SARA atas nama terdakwa Suherman pada Rabu (29/8) digelar. Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Bekasi membacakan Surat Dakwaannya. Terlihat, puluhan sahabat dan tokoh dan Ormas kota bekasi turut hadir memberikan dukungan kepada Suherman. Sidang dilakukan diruang sidang peradilan anak yang sempit, praktis para sahabat dan tokoh yang hadir terpaksa berdiri berimpit dan berdesakan mengikuti persidangan.
Suherman didakwa melakuan ujaran kebencian karena menyebarkan konten berupa photo/gambar yang berisi dugaan perjanjian antara Drs. H. Rahmad Effendi (Wali Kota Bekasi) dengan Pdt. Joskusport Silalahi.,SH (persekutuan Gereja-Gereja Indonesia Setempat Kota Bekasi), Romo Yustinus Kasaryanto.Pr (Gereja Dekenat Katolik Bekasi), Pdt. Yohanes Nur,STh (Badan Musyawarah Antar Gereja Lembaga Kristen Indonesia/BAMAGLKKI Kota Bekasi) dan Pdt. Dr.Subagio Sulistyo (Persekutian Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia/PGPI Kota Bekasi).
Kasus ini bermula dari adanya laporan pendeta Yohanes Nur di Polres Metro Kota Bekasi. Anehnya, dalam uraian dakwaan Suherman tidak menyebarkan satupun konten itu kepada pendeta Johanes Nur. Suherman menyebarkan konten perjanjian itu melalui jaringan pribadi (japri) kepada lima nomor WhatsApp yang ada pada kontak pribadinya.

Kuasa Hukum LBH PELITA umat, Ahmad Khozinudin SH menegaskan tidak mengajukan eksepsi. Tim hukum pembela Suherman menegaskan ingin memperdalam materi perkara, sebab kasus ini diduga melibatkan oknum gereja dan walikota rahmat Efendi, yang perlu diperdalam keterangannya dihadapan persidangan.
“Kasus ini menarik, wali kota Rahmat Efendi perlu diperdalam keterangannya. Sebab, kalau yang dijadikan dasar perkara adalah konten perjanjian, dalam redaksinya tidak ada kata atau kalimat yang bernada kebencian. Justru, komitmen perjanjian adalah menjaga kebhinekaan dan kebebasan beragama, dimana letak kebenciannya ?” Tegas Ahmad.
 “Kalau ini dianggap hoax, konten itu tidak benar, harusnya diterapkan pasal 35 UU ITE. Jaksa hanya mendakwa dengan pasal 28 (2) UU ITE, padahal pasal 28 ayat (2) UU ITE itu unsur utama yang harus dibuktikan adalah unsur kebencian. Jika walikota dan gereja membuat perjanjian untuk bekerjasama, wakikota memberikan komitmen melindungi dan mengayomi gereja, dimana letak kebenciannya ?” Tambah Ahmad.
Ahmad juga menyebutkan kasus ini tidak lepas dari gelaran Pilkada kota bekasi beberapa waktu yang lalu. Diduga, sebaran konten perjanjian itu dikhawatirkan akan menjatuhkan elektabilitas Rahmat Efendi.
“Kasus ini cenderung politis”, pungkas Ahmad mengakhiri pernyataannya.
Dalam persidangan, pengacara Suherman mengajukan permohonan penangguhan yang telah dijamin oleh istri Suherman, juga tokoh dan ormas Islam di bekasi. Beberapa ormas yang nampak membubuhkan tanda tangan dan stempel organisasi diantaranya Front Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB), FUIBU Bekasi, LBH Bang Japar, Ponpes Al Khoirot, MT. Bilal Bin Rabah, Forum Silaturahmi Masjid dan Mushola dan Kongres Umat Islam Bekasi (KUIB).
“Kami berharap, penangguhan suheman ini dikabulkan hakim sebagaimana kasus Shodiqin. Kami tokoh dan Ormas Islam bekasi memberikan jaminan bagi Terdakwa” kata Pak Ferry, Ketua FAPB.
FAPB juga menyayangkan tudingan kasus yang dianggap merugikan Rahmat Efendi dan menimbulkan keresahan ditengah masyarkat. Rahmat Efendi diketahui telah memberian maaf kepada Suherman saat menjenguk Suherman di tahanan polres. Sementara itu, tidak ada kerusuhan atau dampak meluas akibat kiriman konten yang didakwakan atas Suherman.
“Suherman itu cuma japri, bukan sebar di group, bukan unggah di Facebook. Lalu dimana resahnya masyarakat ? Jangan-jangan ini sama seperti kasus Shodikin, pihak gereja memperoleh konten bukan dari Shodikin tapi dari pihak lainnya, ini yang perlu ditelusuri lebih lanjut” terang Pak Ferry.
Sidang yang yang dipimpin Hakim Prajunto Saparilo, didampingi Eka Saharta
dan Suarsa Hidayat sebagai anggota, dengan Panitera Pengganti Rahayu Wismayani ini kemudian ditutup. Agenda sidang selanjutnya pemeriksaan saksi yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 5 September 2018. Pada saat Suherman hendak dibawa kembali ke sel tahanan PN bekasi, Terdakwa sempat bertemu istri yang hadir dalam persidangan. Untuk sesaat, mereka saling berpelukan melepas rindu. Pengunjung yang hadir memberi dukungan, ikut terbaru menyaksikan kejadian ini.