Headline

LBH Pelita Umat Harap Di Babel Tidak Ada Persekusi


Pangkalpinang, 11 September 2018 – – Berbagai kasus persekusi yang sekarang marak terjadi di tengah-tengah umat islam membuat lembaga bantuan hukum pelita umat tergerak untuk membantu menangani berbagai kasus yang menimpa masyarakat. Pernyataan itu disampaikan oleh ketua pembina LBH Pelita Umat, Wahyudi almaroky Dalam acara Islamic Lawyers Forum yang dilaksanakan disalahsatu hotel di Pangkalpinang, Selasa (11/9).
“persekusi terjadi secara massif, kami mendapat laporan dari ujung Sumatera sampai papua. Terutama dari kalangan akademisi, aktivis kampus, ormas islam dan para ustadz. Ini menjadi persoalan serius karena yang ditekan sebagian besar adalah umat islam. ” katanya.
Almaroky berharap agar di bangka belitung tidak terjadi persekusi terjadi kepada umat islam. “Akan kita hadapi bersama, siapa pun aktivis maupun umat islam akan kita bela jika mengalami persekusi dan tindak kezaliman. ” ujarnya.
Dr sahrir, yang turut hadir dalam acara tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat dapat memaksimalkan perannya guna mrncegah persekusi & tercipta keadilan.
 “persekusi yang terjadi sekarang sudah masif dan kronis sehingga menjadi kebiasaan, sehingga orang menganggap aman saja. Perlu pengorbanan kita semua dengan mengajak orang lain kita peduli dengan umat dengan memaksimalkan potensi.” katanya.
Ketua Dewan Masjid Indonesia provinsi Bangka Belitung, H. Rasyid Ridho , menyesalkan sikap penyelenggara negara yang harusnya netral, namun sudah masuk pada politik praktis. Harusnya kebebasan mengeluarkan pendapat yang dijamin Undang-undang mestinya dilindungi.
“Tidak boleh kita biarkan, karena persekusi merupakan perlakuan sangat buruk terhadap orang lain yang menyampaikan pendapatnya, saya pikir persekusi suatu kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. ” ujarnya.
Sementara itu Ustadz Firman Saladin, salah satu tokoh yang hadir juga mengkritisi perilkau politisi praktis dalam sistem demokrasi yang sudah terlibat pada pusaran yang berhadapan dengan kekuatan uang.
” Idealisme akan mati ketika berhadapan dengan pusaran uang. Terjadinya darurat hukum tidak semata aspek teknikal hukum, ada sesuatu yang lebih besar yang harus di kritisi yaitu akidah dan pandangan hidupnya. Politik settingnya yang berbasis demokrasi dengan biaya super mahal, membuat kita sulit mencari keadilan. ” tegas ustadz Firman.