Headline

Islamic Lawyer Forum #3 Jatim: Stop Kriminalisasi Bendera Tauhid


PelitaUmatNews - Surabaya. "Penjelasan perlindungan agama seperti yang disebut dalam pasal 29 e ayat (2) meliputi perlindungan terhadap esensi agama (dari penistaan), perlindungan rasa beragama (seperti pembakaran bendera tauhid) dan perlindungan ketentraman beragama," papar Chandra Purna Irawan narasumber pertama dalam talkshow Islamic Lawyer Forum (ILF) edisi ketiga (11/11). "Sehingga membuat, membagikan dan mengibarkan bendera tauhid bukan termasuk tindak pidana," tambah Chandra.

Diskusi yang digelar LBH Pelita Umat Jawa Timur kali ini mengambil tema ' Bendera Tauhid Milik Umat, Stop Kriminalisasi Bendera Tauhid ' dilakukan di ruang Splash sebuah hotel di kawasan Surabaya Selatan.



KH. Faiq Furqon dari Forum Komunikasi Ulama (FKU) Aswaja Jatim sebagai narasumber kedua, menyampaikan,"Islam adalah agama sempurna, konsepsi hidup utuh, way of life. Dan kalimat laa ilaaha illallah timbangannya lebih berat daripada 7 lapis langit dan 7 lapis bumi. Sedangkan bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, adalah salah satu dari banyak syiar-syiar Islam. Bahkan menjadi syiar yang fundamental."

Lebih lanjut Kyai Faiq mengungkap dalil-dalil hadits tentang Liwa' dan Royah, yang semuanya mengerucut kepada dua orang sahabat, yaitu Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah. Kyai Faiq juga mengungkapkan sejarah perang Mu'tah, upaya dramatis mempertahankan royah sampai syahid menjemput.


Diskusi yang dipandu host Agus Kiswantono berlanjut kepada narasumber ketiga, Satya Widarma (wakil ketua LBH Pelita Umat Korwil Jatim). Bahwa berdasarkan konstruksi pemikiran hukum, vonis 10 hari penjara dan denda Rp 2000 untuk pembakar bendera tauhid, sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa benda yang dibakar tersebut merupakan identitas agama Islam.

Diskusi yang dipadati kalangan profesional/lawyer, intelektual, tokoh partai dan tokoh masyarakat yang berkapasitas 70 orang, dilanjutkan sesi interaktif.


Ustadz Dipo dari Ormas GAMAN (Gerakan Amar Ma'rif Nahymunkar) menyatakan bahwa harus ada upaya untuk mengembalikan rasa percaya diri umat untuk meninggikan kalimat tauhid. Tokoh pendidikan Hari Subagyo menyarankan ada upaya hukum untuk merehabilitasi nama baik HTI. Sugiarto Takmir Masjid Al Mukti mengkhawatirkan, jangan sampai tindakan kita masuk perangkap skenario musuh.

Lawyer Saifullah menengarai bahwa vonis ringan kepada pelaku pembakar bendera tauhid, menunjukkan bahwa rezim benar-benar ingin pamer kekuasaan. Intelektual Ziyad Fallahy melihat dari sudut politik, bahwa heboh pembakaran bendera tauhid tidak lepas dari 'Siapa yang harus dikambinghitamkan untuk menurunkan suara partai Islam di tahun politik ini?'

Sebelum ditutup dengan doa, Budi Harjo ketua LBH Pelita Umat Jatim membacakan pernyataan hukum nomor 06/LBH-PU/IX/2018 tentang 'Mengibarkan Bendera Tauhid Al Liwa dan Ar Royah adalah hak konstitusional setiap Warga Negara'.


No comments