Headline

Isyarat Langit (Catatan Musibah Gempa Tsunami Palu & Donggala)


Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua LBH PELITA UMAT


Pada Ahad (11/11) penulis bersama tim Relawan Islam Selamatkan Negeri berkesempatan mengunjungi langsung pengungsi korban Bencana Gempa Tsunami di Palu dan Donggala. Kegiatan ini adalah rangkaian agenda kerja LBH PELITA UMAT, yang sebelumnya (10/11) penulis mengunjungi kota Balik Papan dan membentuk Korwil LBH PELITA UMAT untuk wilayah Kalimantan Timur.

Agenda pertama, penulis berkesempatan mengisi kajian Ba'da Zuhur di masjid Raya kota Palu. Dalam kesempatan yang baik itu, penulis menjelaskan ihwal bendera Rasulullah berdasarkan hadits Nabi SAW, realitas bendera tauhid, dan pembakaran bendera tauhid di Garut. Penulis juga tekankan, bahwa mengibarkan bendera tauhid adalah hak konstitusional setiap warga negara.

Di Palu, antusias masyarkat membela bendera tauhid begitu besar. Saat mendengar kabar bendera tauhid di bakat di Garut, para pengungsi korban bencana justru yang paling awal memberi inisiatif untuk melakukan aksi bela bendera tauhid. Bahkan, ditenda tenda pengungsian, berkibar bendera tauhid, Al Liwa dan Ar Roya.

Selain melihat langsung kondisi pengungsi di area posko penanggulangan bencana di depan Masjid Agung Darussalam Kota Palu, penulis juga berkesempatan mengunjungi beberapa titik lokasi gempa dan tsunami, dan yang terpenting penulis juga diajak mengunjungi kelurahan Petobo. Disinilah, satu isyarat langit yang tegas mengumumkan kebesaran Allah SWT kepada siapa saja yang masih memiliki sekerat iman.

Di petobo, satu daerah pemukiman dengan luas kurang lebih 2000 ha bergeser dari posisi awal sejauh kurang lebih 1 km. Penghuni petobo yang diduga ribuan jiwa, terkubur tanah dan menurut informasi yang penulis peroleh dari salah seorang relawan, tersisa selamat sekitar seribuan jiwa saja. Memang angka ini bukanlah angka pasti, setidaknya itulah penuturan relawan yang menjelaskan ihwal petobo kepada penulis.

Hamparan kebun kelapa, sawah dan kubah masjid bergeser jauh dari posisi semula. Uniknya, Likuifaksi ini tidak menyebabkan pohon kelapa yang bergeser mati. Pohon kelapa tetap hidup, meski sebagiannya banyak dengan posisi miring dan nyaris tumbang. Tapi ada juga yang tetap kokoh berdiri bahkan sudah bisa dipanen, setidaknya hitungan penulis satu pohon kelapa bisa dipanen tiga tandan (manggar/janjang) kelapa, berisi tidak kurang 25 sampai 30 butir kelapa.

Artinya, Likuifaksi ini terjadi pada ketebalan tanah yang memungkinkan akar dan pokok kelapa tetap bisa mengambil nutrisi tanah sehingga pohon kelapa tetap hidup, tumbuh dan berkembang menghasilkan buah. Jika demikian, dugaan penulis ketebalan tanah yang bergeser setidaknya mencapai ketebalan diatas 10 M.

Perumahan BTN yang tersorong Likuifaksi nampak tersembul agak keatas. Jalanan yang menjadi sarana lalu lintas, pada area Likuifaksi juga ikut menyembul beberapa meter tersosok tanah. Padahal, sebelum Likuifaksi hamparan jalan rata.

Beberapa mata air menyatu dan membentuk anak sungai kecil, mengalir menuju hilir dan terus menyusuri area Likuifaksi yang lebih rendah. Seluruh hamparan area Likuifaksi menjadi prasasti sejarah, menunjukan betapa kecilnya manusia dan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT.

Area pantai, dan beberapa area Terdampak bencana lainnya, menurut penuturan relawan memang dikenal sebagai tempat maksiat. Tempat perjudian, perzinahan, LGBT, dan seabrek perilaku maksiat lainnya.

Bahkan, ada satu area yang hilang tertimpa bencana gempa yang dikenal dengan LAS VEGAS-nya Palu. Disana tersedia berbagai varian jenis judi, tentu saja lengkap dengan minuman keras dan pelacuran. Ada juga perjudian yang sadis, menggunakan sarana tarung (sabung) ayam.

Sabung ayam ada yang menggunakan mata pisau ganda, dilekatkan pada taji kaki ayam kanan dan kiri, pertarungan berakhir hingga ada ayam yang mati. Taruhan judi ini bukan hanya uang, rumah dan harta kekayaan. Bahkan, judi ini konon juga mempertaruhkan istri sebagai bayaran, Naudzubillah.

Konon, sebelum bencana walikota Palu meminta lurah untuk aktif turut serta sama kegiatan festival Palu Nomoni. Festival laut yang tentu saja karib dengan aktivitas maksiat, dan bahkan menyediakan sesaji dan sesembahan untuk laut. Jika ada lurah yang komplain, walikota meminta lurah keluar dari kota Palu.

Karena itu diskusi diantara para korban bencana, rata-rata mengambil kesimpulan penyebab gempa adalah karena murka Allah atas banyaknya maksiat. Terutama, disebabkan maksiat kemusrikan dalam sesembahan dan sesaji laut yang diadakan untuk menyambut festival Palu Nomoni.

Karena itu, seharusnya musibah bencana gempa dan tsunami Palu dan Donggala ini, menjadi sarana muhasabah bagi umat. Menjadi cermin untuk mengenali diri, betapa lemah dan kecilnya umat manusia. Sekaligus, menjadi sarana kontemplasi betapa maha Agung dan maha kuasanya Allah SWT.

Agar musibah yang menimpa kita tidak terulang lagi, rasanya penting untuk didalami beberapa resolusi pemikiran sebagai berikut :

Pertama, manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT. Sebagai makhluk, manusia wajib taat kepada dzat yang menciptakannya.
Alangkah sombong dan jumawanya manusia, ketika berani maksiat apalagi secara terang benderang, melawan kehendak dzat yang maha kuasa.

Siapapun manusia, dengan pangkat dan jabatan apapun, dimata sang pencipta hanyalah makhluk kecil yang lemah. Karenanya, tidak layak ada manusia yang menyombongkan diri dan menolak untuk taat kepada Allah SWT.

Kedua, ketaatan manusia wajib diaktualisasikan dalam bentuk pengingkaran terhadap segala apa yang dilarang dan ketaatan penuh pada setiap perintah yang dititahkan. Jadi, tidak ada alasan dengan dalih kemaslahatan tertentu, manusia mengabdikan perintah dan melanggar larangan Allah SWT.

Allah SWT adalah pencipta manusia, pastilah Allah SWT yang paling tahu apa yang terbaik bagi manusia. Jika Allah SWT bertitah, tidak ada pilihan bagi manusia selain ungkapan 'sami'na wa atho'na'.

Ketiga, ketaatan paripurna hanya bisa terwujud jika manusia menerapkan syariat Islam secara kaffah. Penerapan Islam kaffah, akan membawa segenap umat dan negara bersinergi mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT.

Ketaatan inilah, yang akan menjadi hijab azab sekaligus menjadi kunci-kunci pembuka keberkahan.

Allah SWT berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". [QS: Al A'rof ayat 96].

Diakhir perjalanan, penulis berkesempatan mengecek langsung kegiatan Relawan Islam Selamatkan Negeri. Alhamdulilah, para pengungsi mulai mampu beradaptasi dan taat pada aturan. Tidak ada lagi rebutan jatah dalam proses distribusi logistik. Semua taat antri dan mengikuti petunjuk relawan.

Disamping posko, terlihat ibu-ibu mengikuti pengajian. Recovery mental dan psikologi diantaranya dilakukan dengan mengadakan pengajian-pengajian untuk korban bencana. Dalam pengajian itulah, ditekankan pentingnya sabar, ridlo kepada qadla Allah, muhasabah atas dosa dan kesalahan dan yang terpenting membangun komitmen untuk hidup dalam ketaatan.

Musibah gempa dan tsunami ini adalah isyarat langit, petunjuk kebesaran Allah SWT melalui ayat Qauniyah, mengingatkan manusia agar kembali pada petunjuk dan kebenaran. Masih banyak waktu, untuk membersihkan diri dari maksiat, mengunduh ampunan dan menjemput kebajikan hidup didunia dan akherat, dengan aktifitas ketaatan.

No comments