Headline

DISKUSI AWAL TAHUN, LBH PELITA UMAT KORWIL LAMPUNG: INDONESIA TELAH BERALIH DARI RECHSTAAT ( NEGARA HUKUM ) MENJADI MACHSTAAT (NEGARA KEKUASAAN )


Bandar Lampung - LBH Pelita Umat Korwil Lampung menggelar acara " Diskusi Awal Tahun" yang bertajuk " Refleksi Tahun 2018 dan Proyeksi 2019 dilaksanakan pada pukul 10.00 bertempat di Kampoeng Bambu –Way Halim , Bandar Lampung, Ahad (13/1/2019).

Acara diskusi yang sekaligus Launching LBH PELITA UMAT Korwil Lampung ini dihadiri oleh lebih dari 40an tokoh Lampung dari kalangan ulama, intlektual dan para praktisi hukum di Lampung. Selain Dr. Warji, S.T.P, M.Si. (Akademisi), Kiyai Bambang pengasuh pondok pesantren Miftahul Huda 628, Chandra Purna Irawan, S.H., M.H. selaku sekjen LBH Pelita Umat pusat dan Drs. Wahyudi al-Maroky, M.Si. pembina LBH Pelita Umat pusat sebagai para pembicara, tampak hadir dalam acara ini antara lain : Al Habib Umar Syarif bin Abdillah Assegaf Imam FPI Lampung, KH. Ahmad Romli Lathif Pengasuh pesantren Sabilul Musthofa, Al Habib Ahmad Asyrofi Muzakki Lc, Hermawan S.Hi ketua Advocad Bela Rakyat (ABR) Lampung dan masih banyak para lawyer dan ulama lainnya.

Setelah Acara dibuka oleh Mang Erwan selaku MC, dilanjutkan pembacaan kalam ilahi oleh ustadz Hafidz, sambutan oleh ketua korwil LBH Pelita Umat Lampung dan pengukuhan kepengurusan oleh sekjen LBH Pelita Umat pusat, acara pembukaan disempurnakan dengan pembacaan do’a oleh Al Habib Ahmad Asyrofi Assahab.

Usai acara pembukaan berakhir, acara dilanjutkan diskusi yang dipandu langsung oleh ketua LBH Pelita Umat Lampung, Misbahul Anam, S.Hi.

Pemaparan pertama disampaikan oleh tokoh  akademisi yaitu Dr. Warji, S.T.P, M.Si. Beliau memaparkan kondisi utang pemerintah yang semakin membengkak akibat digunakan untuk membangun infrastruktur, sementara infra struktur itu tidak ada relevansinya dengan peningkatan kesejahteraan rakyat, bahkan hal itu layak diduga digunakan sebagai deal-deal politik tertentu.

Faktanya, dana yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur itu adalah menggunakan investasi asing.




"jika  Investasi asing semakin menjadi-menjadi dan seluruh infrastrukur dimiliki asing, lalu dimana letak kemerdekaan kita ? , " tanya beliau secara retoris.

Lalu Bang Misbahul Anam menimpali pernyataan Dr. Warji tersebut dengan mengatakan bahwa negeri Indonesia perlahan diambil alih oleh asing dengan sistematis dan legal.

Pada kesempatan berikutnya Bang Chandra Purna Irawan, S.H., M.H.  menyatakan bahwa Indonesia telah beralih dari rechstaat menjadi machstaat yaitu negara hukum menjadi negara kekuasaan.

Beliau juga mengatakan bahwa indikasi negara ini telah menjadi machstaat yaitu saat penghina ajaran islam tidak diproses hukum sedangkan yang mengkritik keras pemerintah sangat cepat diproses hukum.

" Sangat wajar jika publik melabeli rezim ini dengan rezim yang represif dan anti-Islam, " kata beliau menutup statemennya.

Pembicara berikutnya yaitu Kyai Bambang memaparkan tentang banyaknya bencana yang melanda negeri ini  dikarenakan maraknya maksiat individu dan maksiat sistemik yang merupakan maksiat paling fundamental  yaitu tidak ditenerapkannya hukum  Allah SWT.

Selanjutnya Drs. Wahyudi al-Maroky, M.Si.  memaparkan tentang kondisi negara saat ini, bahwa negri ini saat ini dalam keadaan terpuruk akibat kesalahan penggunaan sistem hukum negara.

Sistem hukum negri  ini telah menggunakan hukum warisan Belanda yang mendapat warisan dari Prancis dan Prancis mendapat warisan dari Rowawi. Semua itu merupakan hukum Jahiliyyah hukum buatan manusia.

“Bila kita dalami maka didunia ini hanya akan kita dapati dua jenis hukum, hukum Allah dan hukum Jahilyyah atau hukum buatan manusia,” lanjut beliau.

" Satu-satunya orang  di dunia yang sukses melakukan perubahan masyarakat dengan gemilang adalah Rosulullah saw. kemudian beliau menetapkan Piagam Madinah sebagai  konstitusi awal negara Islam yang beliau dirikan," ujar beliau tegas.

Oleh karena itu ketika ingin sukses dalam bernegara harus menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan.

" Solusi yang paling fundamental untuk negeri ini adalah terapkan hukum Allah, " tutup beliau.

Pada sesi akhir, Bang Chandra Purna Irawan memberikan statemen pamungkas.

" Sudah selayaknya, para praktisi hukum, akademisi hukum, dan mahasiswa untuk membangun solidaritas dan silaturahmi untuk menjaga negara ini, " pungkas beliau

Sebagai kesimpulan dari diskusi ini,  Drs. Wahyudi al-Maroky, M.Si. memaparkan syarat-syarat agar menuju perubahan.

" Syarat perubahan ada 3 yaitu memahamkan ummat bahwa situasi sekarang itu buruk, ummat harus diarahkan pada arah perubahan yang benar, dan yang paling penting ummat harus paham caranya, " kata beliau.

Beliau menyimpulkan bahwa seluruh syarat perubahan itu harus mengikuti baginda Rasulullah SAW.

" Rasulullah melakukan dakwah fikriyah dan tidak pernah melakukan kekerasan hingga Daulah Islam Tegak, Allahu Akbar! ," pungkas beliau.

Pembacaan doa kifaratul majelis dari Bang Misbahul Anam, menandakan acara diskusi telah berakhir, yang kemudian para peserta melanjutkan foto dan makan siang bersama.



No comments