Headline

Islamic Lawyers Forum (ILF) Gresik: "Hukum Tajam Kepada Lawan, Tumpul Kepada Kawan"


Gresik, Sejumlah 60 Peserta hadir memenuhi ruangan, ditata dengan model round table, yang terdiri delegasi tokoh berbagai elemen masyarakat, Ulama dan Pimpinan Ormas, Guru, Pengusaha, Mahasiswa, dan lawyer dari daerah Gresik.

Nampak hadir KH. Abdul Wahab, Pimpinan Majelis Taklim As Syifa Gresik, KH. Iffin Masyrukan, Pengasuh Majelis Tafaquh Fiddin, Drs. M. Syifa, Ustad Imron dari PD. Hidayatullah, Dr. Burhan Alumni 212, dan undangan lainnya.

"Adil itu ketika diterapkannya  hukum yang bersumber dari dzat yang Maha Adil, bukan hukum buatan manusia yang pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Bersifat subyektif atau tebang pilih antara kawan dan lawan, ketika bersebarangan maka dicari–cari alasan untuk dipidanakan, tetapi apabila sejalan maka dibiarkan dan didiamkan. Inilah hukum buatan manusia" , ungkap Ahmad Khozinuddin, SH, Ketua DPN LBH Pelita Umat, pada acara Islamic Lawyers Forum (ILF) edisi perdana di Gresik, Selasa 12 Februari 2019.

Diskusi tokoh yang diselenggarakan LBH Pelita Umat Korwil Jatim tersebut mengambil tema ” HUKUM DI INDONESIA DALAM CATATAN”.

Nuansa guyub rukun dan khidmat tergambar dari wajah peserta yang mendengarkan pemaparan kedua narasumber yakni Bapak Achmad Michdan, SH, advocat nasional yang tergabung dalam Tim Pengacara Muslim, dan Ahmad Khozinuddin, SH Ketua DPN LBH Pelita Umat, dan Bapak Munif Hariono SE, selaku moderator dalam acara ini.

“Hukum yang diterapakan di negara saat ini adalah hukum yang mengadopsi hukum peninggalan penjajahan Belanda. Padahal di negara Belanda saja sudah sejak lama tidak menerapakannya", ungkap  Michdan, sapaan akrab Bapak Achmad Michdan SH.

Dilanjutkan pemaparan dari Bapak Achmad Khozinudin yang menyoroti penerapan hukum saat ini. Tidak hanya sekadar terkesan tebang pilih, tetapi memang secara fakta dan nyata. Tajam kepada lawan politik dan tumpul kepada kawan politik.

“Sebagai contoh penanganan terhadap kasus Achmad Dani yang dijerat dengan UU ITE. Padahal dalam kasus atau laporan yang sama kepada Victor Laiskodat, Permadi Arya (Abu Janda), Ade Armando dll, tidak dilakukan proses hukum", terangnya.

Lanjutnya, dalam penetapan putusan Achmad Dani dijatuhi hukuman selama 1,5 tahun, padahal hanya sebatas cuitan sedangkan Taipan China bos cat yang jelas–jelas melenyapkan nyawa hanya dijatuhi hukuman selama 1 tahun saja. "Apakah ini yang dinamakan keadilan?”, papar Bang Khozin sapaan akrab Ahmad Khozinudin, SH.

Nah, umat islam harus sadar dan memiliki frase atau terminologi keadilan yang sama. Lawan kata Keadilan adalah kedloliman. Keadilan tidak identik dengan kesetaraan, atau nilai fakultatif atau nominatif.

"Dalam islam definisi adil adalah menerapkan atau menetapkan hukum sesuai dengan hukum syara’, maka ketika seorang hakim/penguasa tidak memberlakukan hukum bernegara sesuai dengan syara’ maka dia telah berbuat dholim" , papar Bang Khozinuddin

Dalam islam itu dimuka hukum semua rakyatnya dan memiliki kedudukan yang sama. Allah SWT dan Rasul-NYA menetapkan hukum memiliki dua alasan penting dan mendasar.
Pertama, untuk keselamatan dan kemulyaan seluruh umat manusia baik kaum muslim maupun ummat–ummat yang lain.  Kedua, tidak memiliki tendensi/ kepentingan tertentu, baik secara pribadi, golongan atau bangsa, suku, maupun ras tertentu.

Sebagaimana sabda beliau, “Seandainya Fatimah RA Binti Muhammad mencuri maka aku sendiri yang akan memotong tangannya".

Lebih lanjut bang Khozin, menerangkan sejarah tentang masa kekhilafahan Umar Bin Khaththab sebagai penguasa yang adil, yang setiap hari mengevaluasi dan mengoreksi kebijakan–kebijakan para bawahannya. Seperti cerita yang masyhur yakni ketika Gubernur Amr Bin Ash hendak membangun masjid tetapi menerabas tanah milik seorang Yahudi. Lalu Kholifah Umar Bin Khaththab meluruskan dengan hanya memberikan pesan melalui tulang yang digores lurus. Sehingga Gubernur Amr Bin Ash membatalkan niatnya dan hendak membongkar bagian bangunan masjid, tetapi karena hikmah dari kejadian tersebut membuka hidayah orang Yahudi tersebut, akhirnya masuk Islam dan  mewakafkan sebagian lahan yang terkena bangunan masjid tersebut, sehingga pembangunan masjid dapat dilanjutkan kembali.

“Inilah gambaran sistem Khilafah dengan penguasa yang adil yang senantiasa mengoreksi kebijakan bawahannya, bukan seperti sekarang mengaku tidak pernah melanggar HAM dan dicitrakan seperti Kholifah Umar bin Khaththab, tetapi setiap kebijakannya senantiasa dikoreksi oleh bawahannya”, pungkas Bang Khozin.

Acara berlangsung selama tiga jam, dan diakhiri dengan doa serta foto bersama sejumlah tokoh. Para peserta  mendokumentasikan kegiatan ini, karena  jarang sekali diselenggarakan di Gresik.


No comments