Headline

TOKOH PURBALINGGA BICARA MASA DEPAN BANGSA



LBH-PU.News. Purbalingga. Ahad, 26/5 di kediaman KH. Akhmad Kamal Ismail salah satu Tokoh legendaris Purbalingga sekaligus Imam Besar Masjid Agung Darussalam Purbalingga diselenggarakan pertemuan silaturahmi Tokoh dan Aktivis Islam Purbalingga bersama Drs. Wahyudi Al Maroeky, MSi  dan Ahmad Khozinudin, SH dari LBH Pelita Umat Jakarta.

Agenda santai yang dikemas dalam diskusi sekaligus buka bersama ini diselenggarakan dalam rangka mengokohkan ukhuwah Islamiyah sekaligus menyatukan visi perjuangan umat Islam pasca Pemilu 2019.

Nampak hadir beberapa Tokoh dan Aktivis Islam seperi Ust. H. Kasyoto AN (Tokoh & Mubaligh Purbalingga), Ust. Nisyam (Mubaligh), Ust. H. Burhan (Tokoh dan Takmir Masjid), Ust. Suyoko (Pendiri dan ketua KEKAR Indonesia), Bapak Gujra Syarief, SH (advokat Muslim Purbalingga) dan Ust. H. Sukarsono (Tokoh Masyarakat).

Dalam sambutan pengantarnya, KH. Akhmad Kamal Ismail selalu Sohibul Bait bercerita tentang sejarah Rumah kediaman beliau yang pada masa lalu, menjadi markas perjuangan ayahanda beliau yang dikenal aktivis Masyumi. Beliau, kemudian mengeluhkan generasi era now yang kehilangan visi ideologi perjuangan.

"Sekarang pejuang banyak berorientasi pada odologi (red. Orientasi perut, Odol: perut), bukan berorientasi pada ideologi. Tokoh nasional yang diharapkan melanjutkan perjuangan Masyumi justru merapat ke rezim yang terbukti zalim kepada umat Islam " keluhnya.

Kiyai Akmal melanjutkan pentingnya membangun ukhuwah dan sinergi sesama umjat Islam agar umat ini tidak mudah diadu domba, dipecah belah. Fitnah akhir zaman begitu nyata, jika umat ini tidak bersatu maka musuh-musuh Islam akan memangsa Umat ini.

Ahmad Khozinudin ketua LBH PELITA umat, menekankan pentingnya umat ini menguatkan akidah Islam untuk menghadapi tantangan dakwah Kedepan pasca Pilpres. Kuat dugaan rezim akan melanjutkan menggunakan methode kriminalisasi untuk menekan gerakan dakwah Islam.

"Pasal hoax yang merujuk pada pasal 14 dan 15 UU No. 1 tahun 1946, pasal 27 ayat (3) tentang fitnah dan pencemaran UU ITE, pasal 28 ayat (2) pidana SARA UU ITE, pasal 110 dan 111 KUHP, pasal 104 dan 107 tentang makar dalam KUHP, pasal ujaran SARA dan ras etnis, akan menjadi pasal karet langganan untuk mengkriminalisasi dakwah dan umat Islam" tegasnya.

Menurutnya, pengemban dakwah saat ini selain wajib memahami konten dakwah juga wajib memahami aspek hukum guna menghindari Resiko kriminalisasi rezim. Meskipun demikian, Ahmad menekankan pentingnya Istiqomah sebab Resiko dakwah itu alamiah menimpa umat Islam sebagaimana dahulu dialami para Rasul dan Ambiya.

Drs. Wahyudi (Pembina LBH PU), melihat masa depan bangsa ini yang berpotensi menjadi negara adidaya masa depan (Daulatul Ula). Untuk menjadi negara super power, bangsa ini wajib mengadopsi sistem politik yang terbukti menjadikan negara pada masa lalu menjadi super power.

"Khilafah adalah masa depan bangsa ini untuk menjadi super power, apalagi bangsa ini mayoritas penduduknya muslim. Tidak mungkin, kita ingin menjadi negara super power dengan mengadopsi kapitalisme atau sosialisme" terangnya.


Lantas, Drs. Wahyudi menguraikan berbagai potensi bangsa Indonesia yang layak menjadi titik tonggak berdirinya negara super power dari soal cadangan dan kemandirian pangan, energi, bahan senjata, kemandirian finansial jika menerapkan sistem Islam. Beliau juga menekankan, untuk mencapai tujuan ini umat Islam wajib menyamakan visi pergerakan.

Ust. Suyoko, Pendiri dan ketua KEKAR Indonesia menyampaikan pentingnya visi global pergerakan umat Islam. Karena itu, menurutnya saat ini khilafah sangat relevan untuk menyatukan visi global persatuan umat Islam.

"Kami yang bergerak di bidang pemberantasan riba, melihat aktivitas kami ini hanya furu', hanya parsial. Karena itu, kami butuh bersinergi dengan pergerakan Islam yang memiliki visi global, menyatukan seluruh umat Islam" terangnyMasih menurut Ust Suyoko, dirinya berkomitmen mengkonsolidasi ribuan anggota KEKAR, untuk bersinergi berjuang bersama segenap komponen umat Islam lainnya, untuk memperjuangkan visi global umat Islam.

Dalam diskusi tersebut, para tokoh menyepakati setelah kegagalan kapitalisme global, menguatnya ancaman neo komunisme, termasuk ancaman kapitalisme timur China, bangsa ini membutuhkan khilafah sebagai visi global umat Islam untuk menjawab tantangan masa depan. Karenanya, pasca Pilpres ini umat wajib melipatgandakan aktivitas dan perjuangan untuk menegakan syariat Islam dalam naungan institusi khilafah, sebagai arus mainstream perjuangan.

Saking asyiknya berdiskusi, tidak terasa azan Maghrib berkumandang. Acara kemudian ditutup, semua peserta diskusi nampak akrab bercengkrama sambil menikmati hidangan buka puasa yang disediakan sohibul bait. [].








No comments