Headline

ILF BANGKALAN : RADIKALISME MEMBUNGKAM GERAKAN ISLAM





LBH-PU. News. Bangkalan. LBH PELITA UMAT Korcab Bangkalan kembali mengadakan diskusi ILF edisi ke-2 (27/7), mengambil tema 'Radikalisme Islam, Isu Hukum atau Isu Politik?'. Diskusi diadakan dikediaman KH Toha Al Cholili (Cucu Kiyai Cholili Al Bangkali), menghadirkan nara sumber Novel Bamukmin, S.H. (Jubir PA 212), Ach. Fachrudinsyah, S.pi, Msi, PHD (intelektual Bangkalan) dan Ahmad Khozinudin, SH (ketua LBH PELITA UMAT).

Dalam pemaparannya, Novel memandang isu Radikalisme hanya untuk mendeskreditkan umat Islam. Isu yang kemudian menjadi alat untuk menghalau kebangkitan Islam.

"Kami dulu dituduh, dibarisan 02 ada kelompok radikal, namun Alhamdulillah sejak peristiwa Lebak Bulus, Allah SWT ungkap mana yang berjuang untuk Islam, mana yang hanya haus kekuasaan" ungkapnya.

Sementara, Ach. Fachrudinsyah menilai terma radikalisme telah bergeser dari makna bahasa yang netral menjadi makna politik. Terminologi radikalisme ini dijadikan sarana untuk menyerang gerakan Islam politik.

"Seharusnya, istilah radikalisme itu netral. Radik maknanya mengakar, Suatu perubahan yang diinginkan terjadi secara mendasar. Namun, praktiknya radikalisme itu dijadikan sarana stigmatisasi terhadap elemen pergerakan Islam yang menginginkan menerapkan syariat Islam" tegasnya.

Sementara, Ahmad berkesimpulan bahwa isu radikalsme adalah isu politik.  Beberapa poin kesimpulan yang bisa diambil diantaranya :

Pertama, radikalisme itu isu politik yang meminjam legitimasi hukum. Artinya, ada motif politik dibalik digulirkannya isu radikalisme. Sementara, hukum hanyalah alat untuk melegitimasi kebijakan politik yang meminjam sarana isu radikalisme.

Kedua, motif politik dibalik isu radikalisme adalah upaya terstruktur yang menggunakan dan/atau meminjam kekuasaan negara, untuk membungkam atau setidaknya menghambat laju kebangkitan Islam. Motif ini dibungkus kebijakan hukum, yang dijadikan sarana untuk mengkriminalisasi elemen pergerakan Islam dalam kancah interaksi sosial ditengah masyarakat.

Ketiga, kebangkitan yang dimaksud adalah kebangkitan Islam politik, bukan sekedar Islam spiritual. Yang dihambat oleh rezim adalah perkembangan dan kebangkitan gerakan Islam yang menginginkan syariat Islam diterapkan secara kaffah, baik dalam kehidupan pribadi, kelompok masyarakat hingga bernegara.

Keempat, aktor dibalik isu radikalisme adalah kapitalisme barat. Sementara, rezim saat ini hanya mengimpor dan menjajakannya kepada masyarakat, dengan tujuan untuk melindungi kekuasaannya yang rapuh. Radikalisme adalah babak baru pertarungan politik ideologi kapitalisme global melawan Islam, setelah gagal menjual isu terorisme.

Diskusi ILF ini dihadiri ratusan tamu undangan. Hadir juga KH Jurjis ketua FPI Sumenep, para advokat, tokoh dan ulama yang memenuhi aula utama kediaman KH Toha Cholili. Selain diskusi ILF, acara juga diawali pelantikan dan pengukuhan LBH PELITA UMAT korcab Bangkalan. [].












No comments