Headline

ILF JEMBER : RADIKALISME ADALAH KONSTRUKSI DAN FRAMING REZIM UNTUK MENEKAN KEBANGKITAN ISLAM POLITIK




LBH-PU, News. Jember. Islamic Lawyers Forum (ILF) Jember pada Ahad (28/7) diselenggarakan oleh LBH PELITA UMAT KORCAB Jember mengambil tema 'Radikalisme Islam, isu Hukum atau Isu Politik ?'. Hadir sebagai Nara Sumber Novel Bamukmin, SH (Jubir PA 212), Ahmad Khozinudin, SH (ketua LBH PELITA UMAT) dan Dr. Kun Wazis, S.Sos, Si.Kom (Pakar Komunikasi).

Mengawali pemaparan, Novel menceritakan bagaimana eksistensi PA 212 yang berada di barisan 02 (Prabowo-Sandi) dicap sebagai kelompok radikal. Kondisi itu terus berlanjut hingga puncaknya, terjadi peristiwa Lebak Bulus yang menjadi penanda polaritas diantara pendukung 02 yang pro ulama dan yang hanya mengejar kekuasaan.

"Kami telah berkomitmen untuk aksi mendukung 02 di MK, tetapi tiba-tiba ada instruksi untuk tidak melakukan aksi. Kami, saat itu tegaskan hanya terikat pada komando ulama bukan komando lainnya " kenang Novel.

Novel juga menceritakan bagaimana aksi damai 21-22 Mei yang tertib tiba-tiba ricuh, kericuhan bahkan dikembangkan dan melebar hingga menyerang markas FPI di Petamburan. Padahal, jarak antara tempat aksi di Bawaslu dengan markas FPI di Petamburan itu jauh.

"Kami tertib, kami damai. Tetapi, ada unsur yang mengubah keadaan. Dan diujung perjuangan kami kecewa terjadi rekonsiliasi tanpa meminta izin ulama. Padahal, sejak awal dukungan politik yang diberikan umat kepada 02 itu atas keputusan ijtima' ulama" keluh Novel.

Ahmad Khozinudin, menegaskan bahwa isu radikalisme itu adalah isu politik. Bukan isu hukum. Karena umat wajib menggunakan pisau analisis politik untuk membedahnya.

"Motif politik dibalik isu radikalisme yang dijajakan rezim adalah untuk membungkam kebangkitan Islam politik. Karena, saat ini praktis tinggal kelompok politik keumatan yang masih konsisten mengkritisi kebijakan rezim zalim, pasca terjadi tragedi Lebak Bulus dan diikuti jamuan Nasi Goreng di Teuku Umar" demikian, ungkap Ahmad.

Ketua LBH PELITA UMAT ini selanjutnya menegaskan betapa pentingnya umat melawan narasi politik tentang radikslidme. Agar, umat tidak selalu disudutkan dan selalu dipersalahkan.

"Ancaman bangsa ini yang nyata adalah korupsi, bukan radikslisme. Karena itu, yang patut diwaspadai dalam mereka yang terpapar korupsi bukan radikalisme" tambah Ahmad yang mengeluhkan pernyataan Mentistekdikti yang akan mendata mahasiswa dan dosen terkait isu terpapar radikalisme.

Menurut Dr. Kun Wazis, S.Sos, Si.Kom, Informasi yang dijajakan media, bukanlah realitas yang nyata. Melainkan, suatu informasi yang telah di konstruksi dan diframing sesuai kehendak rezim. Isu radikalisme, bukankah isu netral yang merujuk pada devinisi yang netral. Melainkan, isu politik dengan motif politik tertentu.

"Apa yang disampaikan Bang Novel Bamukmin tentang peristiwa 21-22 Mei itu adalah realitas nyata peristiwa, sementara apa yang dikabarkan oleh media ihwal adanya kerusuhan 21-23 Mei adalah realitas yang telah di konstruksi dan diframing" ungkap Dr. kun, Pakar Informasi dan Tokoh Intelektual Jember.

Hal sama juga terjadi pada isu radikalisme, dimana rezim telah mengkonstruksi makna radikal yang netral (mengakar) menjadi makna politik yang diframing untuk mencapai tujuan politik tertentu.

"Saya sependapat dengan Bang Ahmad, bahwa motif dibalik isu radikslisme ini adalah menghadang laju kebangkitan Islam politik. Selain, untuk menutupi borok dan kegagalan rezim mengelola pemerintahan" tambahnya.

Diskusi ILF ini dihadiri sekitar 120 peserta, terdiri dari advokat Jember, tokoh politik, partai, ulama, dan intelektual Jember. Nampak peserta sesak hingga berdiri, dan riuh menanggapi diskusi yang berjalan sangat hangat. [].



No comments