Headline

DISKUSI TOKOH UMAT PURBALINGGA: ISU RADIKALISME MENGUNTUNGKAN SIAPA ?



Purbalingga, LBH-PU, News. Pada Sabtu (24/8), LBH PELITA UMAT Cabang Banyumas Raya mengadakan diskusi ulama, Advokat dan Tokoh Umat. Dalam diskusi itu, hadir sebagai Nara Sumber ketua umum dan Sekjen LBH PELITA UMAT, Ahmad Khozinudin, SH dan Chandra Purna Irawan, SH MH.

Diawal pemaparan, Ahmad menjelaskan bahwa isu radikalisme bukanlah isu hukum melainkan isu politik yang memiliki target politik. Secara hukum, nomenklatur radikalisme tidak dikenal.

"Dalam UU No. 5 tahun tahun 2018 hanya dikenal istilah deradikalisasi dan kontra Radikalisasi. Itupun upaya yang terkait menangani terorisme. Tak ada nomenklatur UU yang secara spesifik mengatur masalah radikalisme" ungkapnya.

Menurutnya, radikalisme adalah isu politik yang diproduksi rezim agar umat tidak mengkritik rezim. Pasalnya, pasca konsolidasi partai koalisi dan oposisi yang diwakili rekonsiliasi 01 dan 02, praktis yang kritis terhadap rezim tinggal komponen umat Islam.

Motif politik isu radikalisme adalah untuk membungkam kritik umat, sementara target jangka panjangnya adalah untuk menghalangi kebangkitan umat Islam, khususnya Islam politik. Karena itu, umat menurutnya wajib melawannya dengan memasifkan aktivitas dakwah Islam.

"Tudingan radikalisme itu selalu dialamatkan kepada umat Islam, wabil khusus gerakan Islam politik. Umat yang ingin menerapkan Islam secara kaffah, menginginkan syariah, menuntut ditegakkannya khilafah, pasti dituding radikal" tegas Ahmad.

Ketika menjawab pertanyaan peserta tentang bagaimana melawan radikalisme, Ahmad menyampaikan bahwa melawan radikalisme dengan dakwah melalui dua pendekatan.

Pertama, menjelaskan secara gamblang, baik dari sisi dalil maupun fakta tentang kewajiban menegakan khilafah. Diulas pula, bagaimana sejarah peradaban Islam yang Agung dibawah naungan Daulah khilafah.

Kedua, mengkritik dan membongkar borok realitas politik dibawah sistem demokrasi sekuler. Tentang permusuhannya terhadap Islam, tentang kegagalannya menjaga dan melindungi umat, tentang abainya pada urusan pelayanan umat.

Perlu juga dijelaskan kepada umat, standar ganda yang dipakai rezim pada isu radikalisme. Dimana umat ketika membahas syariah, mengkaji khilafah, menjelaskan keutamaan jihad fi sabilillah dituding radikal. Sementara OPM yang jelas-jelas membunuh, menuntut memisahkan diri dari NKRI, tak ada satupun tudingan radikal kepada OPM. Radikalisme hanya ditudingkan kepada komponen umat Islam yang menginginkan kembali diatur dengan syariat Allah SWT.

Sementara Chandra, menjelaskan terminologi radikalisme digulirkan rezim setelah merasa gagal memerangi umat Islam dengan isu terorisme. Menurut Chandra, rezim saat ini membuat parameter radikal kepada tiga kategori, sebagaimana keterangan Ansyad Mbai yang disampaikan di sidang PTUN saat menghadapi sengketa TUN yang diajukan HTI.

"Pertama, radikal tindakan. Kedua, radikal verbal dan ketiga, radikal pemikiran" ungkap Chandra.

Radikal tindakan adalah radikal yang berbentuk tindakan nyata seperti melakukan kekerasan fisik, teror fisik, dengan kekuatan dan senjata. Radikal verbal adalah radikal yang cirinya dari penampakan fisik : berjenggot, menggunakan cadar, celaka cingkrang, berjanggut, dan sejenisnya. Adapun radikal pemikiran adalah komponen umat yang menginginkan di tegaknya syariah dan khilafah.

Tudingan dan isu radikalisme ini juga bukan murni ide rezim, melainkan rezim hanya mengimpor dan mendaur ulang dari penjajah, kapitalisme barat yang dipimpin Amerika.

Diakhir diskusi, Ahmad menegaskan isu radikalisme ini digulirkan rezim, disokong oleh antek antek rezim baik kaum liberal sekuler maupun sosialis atheis yang menarget umat Islam. Siapa yang diuntungkan ? Jawabnya jelas rezim zalim anti kritik yang tidak ingin umat ini bangkit, juga para penjajah, Amerika, China dan barat yang tidak ingin kehilangan daerah jajahannya di nusantara ini.

Nampak hadir tokoh-tokoh, ulama, ibu ibu muslimat, dan para aktivis dalam diskusi. Bapak Ahmad Kamil tokoh gaek dari Purbalingga juga terlihat hadir dan ikut menanggapi diskusi dengan antusias. [].

No comments