Headline

HARI YANG DINANTI NANTIKAN, HARI PEMBEBASAN KYAI HERU ELYASA



Oleh : Muhammad Ikhsan

ALHAMDULILLAH .... Alhamdulillahi rabbil 'alamin...

Rabu, 13 November 2019, Pukul 09.00 WIB adalah hari yang berbahagia. Dimana hari tersebut merupakan hari pembebasan Kyai Heru Elyasa dari hukuman berupa penjara di LAPAS Kelas IIB Mojokerto selama 3 bulan dipotong masa tahanan.

Beliau ditahan karena dijerat pasal pukat harimau UU ITE, yakni pasal 28 ayat (2) Jo pasal 45 ayat (2) UU No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE.
Cukup aneh karena unggahan status medsos beliau berupa dakwah amar makruf nahi munkar ditafsirkan sebagai ujaran kebencian. Padahal sejatinya dakwah amar ma'ruf nahi munkar tidak boleh dikriminalisasikan dalam ranah hukum.

Puluhan bahkan ratusan pendukung Kyai Heru Elyasa mulai dari Kyai, Ulama dan para santri dari berbagai kota di Jawa Timur tampak hadir di Lapas Mojokerto ikut menyambut hari yang berbahagia dan dinanti nantikan tersebut telah tiba.
Tidak heran, karena Kyai Heru Elyasa sendiri merupakan Kyai yang kharismatik, berani dan mukhlis, dimana beliau tidak gentar berdakwah amar ma'ruf nahi munkar walaupun beliau sering mendapatkan ancaman atau persekusi dari pihak pihak tertentu.

Setelah memasuki mobil LBH Pelita Umat dengan kawalan para penasihat hukum di dalamnya, puluhan motor dan mobil para Kyai dan santri pun turut mengiringi dan mengantarkan beliau pulang menemui keluarganya, menuju kediaman beliau di RM. Kembangan, Pungging, Mojokerto.

Iring iringan puluhan mobil & motor para Kyai serta Santri yang ikut mengantarkan Kyai Heru Elyasa terlihat begitu semarak dan bersahaja, mereka terlihat serempak mengibarkan bendera Tauhid bendera Rasulullah, Al Liwa & Ar Royah.
Iring iringan pendukung Kyai Heru Elyasa yang melewati arus lalu lintas yang cukup padat namun lancar sepanjang 21 KM dari Lapas Mojokerto menuju RM. Kembangan telah menyita perhatian para pengendara lain untuk turut menyaksikan betapa gagah dan berwibawanya kibaran panji panji Tauhid.

Apapun yang terjadi tetap harus disyukuri, karena inilah resiko yang dihadapi ketika berdakwah dalam situasi dan kondisi rezim pada saat ini.
Sungguh ironi sekali dalam negara hukum seperti di Indonesia ini, orang yang berdakwah menyampaikan kebenaran malah mendapatkan hukuman penjara, apalagi beliau adalah seorang Ulama yang Kharismatik.

Perlu diingat, hukuman penjara yang diakibatkan karena berdakwah tidaklah akan mencoreng kemuliaan seorang Ulama sedikitpun, berbeda dengan hukuman penjara bagi pejabat pejabat negara yang hobinya korupsi memakan uang rakyat. Tentunya para koruptor tersebut akan dihinakan Allah Ta'ala di dunia maupun di akhirat nanti!

Semoga kedepannya nanti para "ASADULLAH" Singa Singa Allah pengemban dakwah tetap mengaum dan banyak terlahir lagi dalam melaksanakan tugasnya berdakwah amar ma'ruf Nahi Munkar menyampaikan kebenaran kebenaran Islam.

ALLAHU AKBAR!
TABIK

No comments