Headline

KASUS SUKMAWATI, PERLINDUNGAN NEGARA PADA AGAMA ISLAM DAN 'TUAH' PASAL PENODAAN AGAMA




Oleh : Damai Hari Lubis, SH MH
Ketua Divisi Hukum PA 21
Ketua KORLABI


Pada medio April 2018, Sukmawati Soekarnoputri telah membuat umat Islam meradang. Berdalih seni, putri proklamator Soekarno ini membuat statement yang menyakiti hati umat Islam ihwal puisi kondenya. Ujungnya, puisi Sukmawati ini dilaporkan oleh seorang pengacara, rekan Denny Adrian ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penistaan agama.

Tuduhan ini terkait puisi berjudul "Ibu Indonesia" yang dibacakan Sukmawati saat gelaran fashion show Anne Avantie beberapa waktu lalu. Rekan Denny menilai puisi yang dibacakan Sukmawati telah mengdiskreditkan Islam.

Melalui video yang beredar luas, Sukmawati membandingkan Syariat Islam dengan syariat konde, nyanyian kidung Ibu pertiwi lebih indah daripada azan. Laporan itu dituangkan dalam surat LP nomor polisi : LP/1782/VI/2018/PMJ/Dit. Reskrimum.

Sukmawati dilaporkan karena diduga telah melanggar Pasal 156A KUHP tentang Penistaan Agama dan Pasal 16 Undang Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Tak berselang lama, Saudara Amron Asyhari juga melaporkan Sukmawati atas tuduhan yang sama. Laporan saudara Amron diterima dengan LP/1785/IV/PMJ/Dit.Reskrimum tertanggal 3 April 2018.

Penulis sendiri melalui Koordinator Pelaporan Bela Islam (KORLABI) juga melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke polisi terkait puisinya dengan judul 'Ibu Indonesia' itu. Menurut Sekjen Korlabi Novel Bamukmin, SH, Puisi Sukmawati dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya pada ajang Indonesia Fashion Week 2018, di Jakarta Convention Center, itu dilaporkan karena diduga telah menghina agama Islam.

Selain penulis, banyak elemen umat baik individu, advokat, ormas, yang mengeluhkan dan melaporkan video Sukmawati. Puisi yang dibacakan Sukmawati sangat melecehkan agama Islam. Sukmawati dilaporkan atas dugaan  telah melanggar Pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama.

Namun, pada 17 Juni 2018 Polisi menghentikan penyelidikan dugaan penistaan agama terkait puisi 'Ibu Indonesia' yang dibacakan Sukmawati Soekarnoputri itu. Alasannya, polisi tidak menemukan unsur pidana.

Karena tidak ditemukan perbuatan melawan hukum atau perbuatan pidana, perkara tersebut tidak dinaikkan/ditingkatkan ke tahap penyidikan. Polisi akhirnya menerbitkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyelidikan).

Hari ini, Sukmawati kembali membuat ulah. Orang dengan nama lengkap Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri alias Sukmawati ini menyoal ihwal sosok ayahnya selaku mantan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno (Bung Karno) lebih berjasa daripada Nabi Muhammad SAW pada awal abad ke-20. Kontan saja pernyataan ini memantik kemarahan umat Islam.

Kritik dan sumpah serapah, celaan terhadap Sukmawati begitu masif di sosial media. Netizen menyalurkan kemarahan dan kejengkelannya dari kritik yang bersifat logika analitik hingga sindiran sarkastik.

Hidayat Nur Wahid dalam unggahan sosial media (Twitter) menyebut “Untungnya Bapak Bangsa & Proklamator Indonesia bukan Sukmawati, tapi adalah Bung Karno,”. Ia kemudian menjelaskan, Bung Karno begitu mengakui sosok Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat Islam. Bahkan tak ada pemimpin yang lebih besar dari Baginda Nabi Muhammad SAW.

Sementara mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu memberitahu kepada Sukmawati bahwa bendera Syarikat Islam yang berjuang memerdekakan Indonesia itu bertuliskan Arab dengan dua kalimat syahadat dan organisasi massa (ormas) lain. “Pejuang kemerdekaan, termasuk Soekarno juga selalu menyebut nama Nabi Muhammad. Banyak sekali pahlawan kita bernama Muhammad,” demikian terang Said Didu.

Untuk menghindari polemik lebih jauh, dan agar perkara ini segera ditindaklanjuti oleh kepolisian sebagai bagian dari proses Pro Justisia, KORLABI melalui Novel Bamukmin, SH selaku Sekjen pada Jum'at (15/11/2019) mendampingi pelapor bernama Ratih Puspa Nusanti, SH mempolisikan Sukmawati di Polda Metro Jaya. Selain Rekan Novel Bamukmin, SH,  Pelapor juga didampingi Arvid dan Azzam Khan, SH.

Ratih adalah seorang Muslimah yang kecewa karena panutannya Nabi Besar Muhammad Rasulillah SAW dihina atau dinistakan oleh Sukmawati, karena itu ia laporkan sukmawati atas  statemennya. Laporan dituangkan dalam berkas Laporan Polisi Nomor : LP/7973/XI/2019/PMJ/Ditreskrimum.

Tim KORLABI yang mendampingi berharap agar Kapolri yang baru yaitu pak Idham Azis berani mengusut dugaan penistaan terhadap agama Islam yang kembali dilakukan oleh Sukmawati. Ini kasus pertama laporan dugaan penistaan agama yang diterima Kapolri yang baru.

Laporan yang didampingi KORLABI ini menjadi tantangan bagi kepolisian dibawah Kapolri yang baru apakah memiliki komitmen menjaga dan melindungi perasaan umat Islam dengan memproses pidana Sukmawati atas dugaan penghinaan Nabi Muhammad SAW. Laporan ini sekaligus menjadi parameter apakah pasal penodaan agama masih bertuah dan 'berlaku' di negeri ini.

Semoga Kapolri yang baru dapat bertindak profesional, menyerap aspirasi dan suasana kebathinan umat Islam yang marah teladannya dihina Sukmawati. Tindak lanjut  laporan ini diharapkan sampai pada proses persidangan, yang dengan itu publik khususnya umat Islam merasa masih memiliki jaminan perlindungan negara atas kemuliaan agamanya. Semoga saja. [].

No comments