Headline

ILF edisi Januari 2020 LBH Pelita Umat Sidoarjo : RADIKALISME, PERANG MELAWAN ISLAM?


Sidoarjo, 19 Januari 2020

Islamic Lawyer Forum (ILF) LBH Pelita Umat Sidoarjo pada edisi Januari 2020 berupaya untuk mendudukan isu "Radikalisme" dalam koridor kepastian hukum. "Radikalisme" tidak boleh dibiarkan menjadi bola liar yang digunakan seenaknya untuk menghantam setiap yang kontra. Itulah penggalan pembuka ILF yang disampaikan oleh Direktur ILF Pelita Umat Sidoarjo, M. Ilung Wardhana, SH.

Selanjutnya, Imam Afdholy, SH sekretaris Pelita Umat Sidoarjo, memberikan kalimat pengantar.
Radikalisme lebih condong digunakan sebagai alat "gebuk" dengan meninggalkan "due process of law". Dan realitas ini semakin parah, karena yang sering menjadi penggebuk adalah penguasa. Jika dibiarkan, Indonesia pasti akan bergeser kearah macstaad (negara kekuasaan).

Dalam mensikapi Radikalisme, KH. Ahyani Ibnu Umar, MPd (Ulama Pengasuh PP. Baitul Mubarok Sidoarjo), tampil sebagai pembicara pertama.
Menurut Beliau, Iman & taat pada syariat Islam kaffah adalah hal yang terpenting bagi Muslim.
Karenanya, isu "Radikalisme" tidak boleh ditujukan kepada Muslim yang taat memegang syariat Islam kaffah. Jika itu dilakukan, maka itu adalah pengumuman perang terhadap Islam. Bahkan itu juga merupakan pengumuman perang kepada Allah SWT - Zat pemilik alam semesta.

Pembicara selanjutnya adalah Andre Husnari, SIP. mewakili komunitas Penulis Garis Bawah (Kiswah). Beliau menjelaskan bahwa Radikalisme di Indonesia telah bergeser dari makna awal di KBBI. Radikalisme telah mengikuti isu ekstrimisme yang digunakan Barat untuk menghantam Islam.

Selanjutnya Azhar Suryansyah, SH, Advokat sekaligus Divisi Pembelaan Publik Pelita Umat Sidoarjo, memperinci berbagai ketidakadilan proses penanganan hukum. Beliau tegaskan bahwa hukum tumpul pada pro rezim dan sangat tajam pada yang kontra sudah kasat mata. Inilah yang semakin menguatkan persepsi publik bahwa Radikalisme hanya ditujukan untuk Islam.
Beliau mencontohkan banyaknya kejanggalan atas kasus yang menimpa Ahmad Khozinudin, SH - Ketua LBH Pelita Umat Pusat hanya karena Beliau kritis terhadap rezim. Azhar juga mengimbau agar aparat penegak hukum kembali menjadi alat negara bukan menjadi alat kekuasaan. Karena jika aparat penegak hukum benar-benar menjadi alat kekuasaan, maka episode penghancuran bangsa telah dilaksanakan.

Sebagai pembicara terakhir dari Pelita Umat Sidoarjo, DH Priyanto memaparkan carut marutnya tata kelola negara. Mulai isu Radikalisme yang bias & obscure, ketidakadilan penerapan hukum yang kasat mata, Ekonomi negara bermasalah, kenakalan remaja merajalela, korupsi mengurita, sampai masalah kedaulatan bangsa. Beliau tidak menafikan kemungkinan isu Radikalisme untuk menutupi itu semua. Tetapi Beliau ingatkan, bahwa masyarakat Indonesia semakin cerdas.

Kemudian sesi sharing & diskusipun dibuka. Audien begitu antusias dalam sharing dan bertanya sampai dipenghujung acara. Setelah itu, Ilung Wardhana, SH. menyampaikan hasil sharing dan diskusi.

Sebagian publik menyakini bahwa Radikalisme memang ditujukan untuk ide Khilafah. Khilafah adalah ajaran Islam. Saat ini, Khilafah yang diyakini oleh Ulama-Ulama terpercaya Islam sebagai solusi permasalahan dan bukti rahmat Allah bagi manusia sedang dikriminalkan.
Sungguh amat naif yang mengkriminalkan Khilafah, saat sistem pemerintahan yang mereka puja semakin banyak memberikan kesengsaraan, tutup Direktur ILF Sidoarjo. (AF)

No comments