Headline

Radikalisme, Narasi jahat nan obscure dan Lentur


Islamic Lawyers Forum DIY Edisi 03

Sabtu, 11 Januari 2020

Perubahan menuju Islam tidak pernah sepi dari hambatan dan rintangan. Berbagai pendekatan digunakan oleh pihak-pihak yang merasa terancam dengan kehadiran Islam. Hard and soft approach dipakai. Monsterisasi dan stigmatisasi disematkan. Bahkan politik lawas belah bambu juga diusung. Sangking takutnya Islam akan bangkit kembali. Tudingan radikal yang biasanya diacungkan ke kalangan aktivis Islam telah sampai pula ke level PAUD. Hanya karena adanya “tepuk anak sholeh” yang dibawakan dengan riang gembira anak-anak kecil itu. Bait-bait yang menyatakan cinta Islam sampai mati, Islam Yes Kafir No dianggap menyemai radikalisme.
Kelucuan-kelucuan para penderita Islamophobia tersebut membuat peserta Islamic Lawyers Forum tertawa dan geleng kepala. Forum ILF yang digelar oleh LBH Pelita Umat Korwil Yogyakarta itu memang sengaja mengangkat topik “Dikotomi Moderat & Radikal Menjerat Muslim?” melihat realitas bahwa korban narasi itu semuanya muslim. Atmosphere belah bambu terhadap umat Islam sangat terasa. Tentu pihak yang tertuduh radikal akan merasa terpojok. Selain itu terjadi suasana saling curiga di tengah-tengah umat.

Forum ini menghadirkan kalangan akademisi, praktisi hukum, tokoh dan aktivis.  Ketua LBH Pelita Umat Korwil DIY, Agung Nugroho Susanto, S.H. menyampaikan bahwa ILF ini adalah kali ketiga diselenggarakan di Yogyakarta.  Pakar dan praktisi yang didapuk sebagai narasumber pada kesempatan ini adalah, Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. (Guru Besar Undip), Dr. Muhammad Nur Islami, S.H., M.Hum. (Akademisi Hukum Internasional) Winner Agung Pribadi, S.IP., M.A. (Dosen Luar Biasa Hubungan Internasional) dan Ahmad Khozinudin, S.H. (Ketua Umum LBH Pelita Umat).

Mengemuka dalam forum bahwa saat ini umat Islam dihegemoni penguasa anti Islam. Berbagai cara tentu akan dicari dan digunakan untuk melanggengkan hegemoni tersebut. Umat mesti paham bahwa perlakuan buruk terhadap umat Islam di Indonesia merupakan bagian dari konstelasi politik dunia. Demikian papar Dr. Muhammad Nur islami. Penjelasan ini sebenarnya mengingatkan bahwa hanya dengan menyatukan kekuatan seluruh umat Islam dunia masalah dapat diselesaikan.

Winner Agung Pribadi, S.IP., M.A. menganalisis bahwa negara bangsa yang kenyataannya memecah kekuatan umat Islam semakin kehilangan relevansinya.  Kemajuan teknologi informasi dan transportasi penyebabnya. Negara – negara maju yang saat ini menghegemoni dunia paham betul bahwa khilafah akan semakin relevan dan aktual dengan kemajuan tersebut. Konsep khilafah yang membangun negara bukan berdasar batas teritorial akan mampu menyatukan seluruh potensi umat Islam. Negara barat tidak akan segan menghalangi tegaknya khilafah, bahkan mereka akan membajak khilafah sebagaimana yang terjadi di Suriah. Khilafah adalah ancaman riil eksistensi mereka.
Agenda global yang memberangus Islam ternyata diadopsi oleh rezim negeri ini. Isu terorisme tak ubahnya barang dagangan yang diambil dari barat kemudian diecer di negeri sendiri. Ketika “War on Terrorism” dirasa tidak mampu menjaring banyak elemen kritis umat Islam serta menghentikan mereka. Maka dirasa perlu menciptakan pukat baru. Akhirnya dimunculkannlah isu radikalisme. Siapa saja yangmengkritik kebijakan penguasa akan langsung dicap radikal. sebutan yang sampai saat ini masih mengambang. Tafsirannya tergantung dengan kepentingan. Maka tidak berlebihan jika dikatakan nomenklatu radikalisme itu kabur (obscure) dan lentur. Demikan Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. mengulas.

Jelas bahwa upaya menjauhkan umat dari cahaya Islam akan terus berlangsung. Segenap pihak yang telah menyambut seruan dakwah dan berjuang untuk Islam semestinya berpikir positif. Semakin represif penguasa semakin berat tantangan berarti dakwah menunjukkan kemajuan. Tentunya totalitas tawakkal dan ikhtiar terbaik diupayakan. Termasuk ketika berhadapan dengan kasus hukum. Ahmad Khozinudin, S.H., ketua umum LBH Pelita Umat, Lembaga Bantuan Hukum yang selama ini mendampingi para ulama dan aktivis Islam. Menyampaikan bahwa para pengemban dakwah adalah orang-orang terbaik yang mengemban visi mulia. Mereka bukanlah kriminal. Sejatinya para pengemban dakwah sedang berhadapan dengan orang-orang jahil, jahat namun berkuasa. Forum yang dipandu oleh Presiden ILF DIY , Anarisdiwiyanta, berlangsung penuh semangat, cerdas dan tentunya gayeng. [Yus].


No comments