Headline

DURIAN PERLAWANAN, MENGUAK SKANDAL MEGA KORUPSI DI SENGKARUT KEMEROSOTAN EKONOMI












[Catatan Road show Diskusi Hukum dan Politik]


Oleh : Ahmad khozinudin, SH
Ketua LBH Pelita Umat


Sejak Kamis (13/2) hingga Ahad (16/2) Penulis melakukan serangkaian Safari Politik dalam diskusi hukum dan politik bertema "Menguak Skandal Mega Korupsi di Sengkarut Kemerosotan Ekonomi". Kota Malang menjadi Kota destinasi pertama. Diskusi, dilanjutkan ke Jember, Probolinggo, Sampang dan berakhir di Kota Pahlawan Surabaya.

Pada diskusi awal di Kota Malang dan Jember, penulis hadir sebagai Narasumber bersama Bang Rizal Fadhilah. Beliau adalah penulis dan pemerhati politik. Bagi Netizen yang karib dengan sosial media dan punya perhatian pada urusan politik, pasti mengenal beliau.

Nyaris setiap pagi kita dapat temui tulisan beliau berseliweran di jagat sosmed. Platform yang sering menjadi moda distribusi tulisan adalah WhatsApp. Selain itu, Facebook juga sering menjadi ajang copas tulisan beliau sehingga beredar kemana-mana.

Bang Rizal Fadhilah tidak bisa melanjutkan roadshow dikarenakan sudah ada agenda lain di kota Tangerang. Karenanya, pasca diskusi di Jember beliau melanjutkan perjalanan terbang ke Jakarta.

Selanjutnya, untuk diskusi di Probolinggo, penulis melanjutkan roadshow bersama Bang Edi Mulyadi, Pengamat Ekonomi dan Sekjen GNPF Ulama. Beliau melanjutkan diskusi bersama Penulis ke Kota Probolinggo, Sampang dan berakhir di kota Surabaya.

Yang khas dari beliau, adalah sikap oposannya kepada Menkeu Sri Mulyani. Bahkan, secara khusus beliau menulis buku berjudul 'Sri Mulyani Neolib ?'. Beliau, dalam diskusi berulang kali menggelari Sri Mulyani sebagai "Menkeu Terbalik Se Dunia".

Selain membahas tema, ada yang khas dalam perjalanan destinasi diskusi hukum dan politik. Ya, hadirnya "hidangan buah durian" yang oleh panitia disebut sebagai "Durian Perlawanan".

Konon, menurut Ketua Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD), Selamet Sugiyanto selaku Aranger agenda, diskusi dan buah durian adalah simbol Perlawanan. Karena buah durian ini disajikan dengan diskusi yang fokus melawan kezaliman Rezim, maka durian ini disebut sebagai "Durian Perlawanan".

Penulis benar-benar di manjakan panitia, di setiap kota destinasi diskusi, kami disuguhi hidangan buah durian. Di kota malang, kami menikmati hidangan buah durian di pinggiran jalan kota sambil menikmati suasana malam Kota.

Di Jember, kami dimanjakan dengan durian Kane (marga durian monthong yang legit), durian kasur, dan durian lokal. Spesialnya, kami menikmati durian bersama hidangan kopi nikmat disebuah kedai dengan motto "makan sepuasnya, bayar seikhlasnya".

Di Probolinggo, hidangan durian dinikmati bersama kopi jahe, plus es krim durian. Tidak hanya itu, sebelum melahap durian kami juga dimanjakan dengan hidangan ikan bakar, lengkap dengan ubo rampenya.

Di Sampang, durian terpaksa dieksekusi di Surabaya karena mengejar agenda diskusi di kota Surabaya. Dalam perjalanan Sampang - Surabaya, kami berhenti disebuah kedai kelapa muda.

Dengan hidangan es kelapa muda inilah, kami mengeksekusi buah durian oleh-oleh dari Sampang. Selain durian, di Sampang kami sempat mengeksekusi bebek ungkep khas Sampang.

Di Surabaya, pasca diskusi sekira pukul 11.30 malam, kami bersama panitia mengeksekusi buah durian bersama di sebuah pusat kuliner Surabaya. Pesta durian terakhir ini adalah durian terlegit, pesta pamungkas, dan konon proses penghidangan durian ini melalui sejumlah perjalanan dan melibatkan banyak orang.

Adapun tema diskusi, baik yang bertajuk jalan pikiran sehat yang diselenggarakan di Malang dan  LBH Pelita Umat Jember, Diskusi Rumah Inspirasi Perubahan Probolinggo, ILF LBH Pelita Umat Korcab Sampang, hingga yang diselenggarakan PKAD Surabaya, semua mengambil tema sama, yakni : Menguak Skandal Mega Korupsi di Sengkarut Kemerosotan Ekonomi.

Dari serangkaian diskusi diperoleh kesimpulan, semua problem ekonomi dan korupsi telah sampai pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Semua solusi dan methode perubahan sudah ditempuh, namun belum juga membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Tingkat pertumbuhan ekonomi dibawah 5 %, utang Negara membengkak, utang BUMN, neraca perdagangan defisit, kemiskinan, pengangguran, korupsi Jiwasraya, korupsi Asabri, potensi gagal bayar BNI, dan banyak soal lainnya, dapat menjadi dasar simpulan bahwa negeri ini mengalami problem sistemik. Karenanya, diperlukan solusi sistemik.

Dalam kesempatan itulah, penulis menawarkan solusi Islam dengan menerapkan syariat Islam dalam bingkai kehidupan bernegara. Jika komunisme sosialisme, kapitalisme sekulerisme, telah diterapkan dan terbukti merusak bangsa ini, sudah saatnya bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini untuk bergerak, berjuang bersama menerapkan Islam dalam kehidupan bernegara. [].

No comments