Headline

MUHASABAH DIRI, PENGINGAT VISI AKHIRAT, MERINDUKAN INDAHNYA SURGA



[Catatan Pengingat Diri, Agar Selalu Ridlo di Jalan Ilahi]

Oleh : Ahmad Khozinudin, SH
Ketua LBH Pelita Umat


Pagi ini di laman Facebook (27/2), seorang sahabat menandai Penulis dalam sebuah kiriman kepada satu unggahan video di link Facebook. Video itu adalah penggalan diskusi yang pernah penulis lakukan, dua tahun lalu di Gresik.

Sebenarnya dari sisi konten, video itu biasa saja. Video closing statement penulis, pada diskusi hukum bertema "Modus Dibalik Peristiwa Teror Kepada Pemuka Agama".

Saat itu, selain Penulis juga hadir Bang Achmad Michdan, SH dari TPM (Tim Pengacara Muslim) dan Prof Aminuddin Kasdi (Guru Besar dan Ahli Sejarah, Pengajar di Unesa Surabaya). Selain di Gresik, Roadshow diskusi juga singgah ke Nganjuk dan Tuban. 

Tema tersebut diangkat karena saat itu banyak terjadi peristiwa penyerangan terhadap ulama dan masjid. Setiap pelaku tertangkap, selalu dinyatakan gila oleh polisi.

Prof Aminuddin mengungkapkan adanya kemiripan peristiwa saat ini, dengan sejarah menjelang pecahnya pemberontakan PKI tahun 1965. Penodaan agama, penyerangan terhadap tokoh agama, dahulu juga marak dilakukan oleh PKI.

Bang Michdan menceritakan bagaimana kasus Terorisme menyasar kepada umat Islam. Begitu banyak Ikhwan kita, ditangkap hanya dengan dalih terduga teroris. Keluarga mereka, bahkan kesulitan menjenguk Terduga teroris yang ditangkap densus 88 Mabes Polri.

Mungkin karena penulis beberapa waktu yang lalu juga ditangkap oleh Penyidik dari Direktorat Pidana Siber Mabes Polri, video yang beredar itu mendapatkan momentum beredar kembali. Seolah, ungkapan dalam closing statement yang penulis sampaikan, menjadi nasehat bagi penulis sendiri.

Terbukti, Penulis juga ditangkap dengan pasal-pasal yang dipaksakan. Bahkan, pasal 207 KUHP menurut kuasa hukum penulis, Chandra Purna Irawan SH MH, telah diputus MK dalam penafsiran pertimbangan MK wajib berdasarkan adanya aduan dari penguasa yang merasa dihina. Nyatanya, penulis ditangkap hanya berdasarkan laporan internal kepolisian.

Yang melegakan adalah kondisi penulis dan keluarga, yang sejak lama sadar sedang dalam aktivitas dakwah, sadar sedang berjuang untuk Agama Islam dan sadar dengan segala resiko dan tantangan. Kami sadar dan yakin, bahwa Allah SWT tidak akan mungkin meninggalkan hamba-Nya yang menolong Agama-Nya sendirian. Allah SWT pasti menolong Kami.

Saat penangkapan yang dilakukan penyidik Mabes Polri, tentulah istri penulis merasa was-was, takut dan sedih. Namun, begitu mengingat Allah SWT, mengingat ini ujian dakwah, penulis segera mampu membaca aura ketabahan di wajah istri penulis.

Saat itu, anak-anak juga sedang tidur lelap karena penangkapan terjadi pada pukul 02.30 dini hari. Seperti tidak ada waktu saja, penyidik melakukan penangkapan disaat rakyat tidur terlelap.

Anak penulis nomor 2 sempat bangun, menanyakan keadaan yang riuh karena terjadi perdebatan antara penulis dengan penyidik. Penulis meminta penyidik menunggu di teras, Sementara penyidik memaksa ingin masuk rumah. sampai keluar umpatan 'bajingan' dari salah satu penyidik Kepada penulis.

Namun karena dijelaskan oleh istri penulis Abinya ada kegiatan Dakwah, dan karena anak penulis juga terbiasa dengan aktivitas penulis sebagai advokat yang pulang atau pergi malam hari, akhirnya anak penulis yang baru berusia 8 tahun mengerti dan melanjutkan tidurnya. Penulis pun ketika itu segera bergegas menyiapkan diri, tak lupa penulis mengambil Al Qur'an sebagai bekal, untuk dibaca saat berada dalam penangkapan.

Video itu kembali mengingatkan momentum ketika penulis melamar seorang wanita Sholehah yang kelak dia menjadi istri penulis, menjadi ibu dari anak-anak penulis. Ya, ketika itu penulis meminang wanita itu dengan janji surga.

Janji akan membina dan membimbingnya berada dalam ketaatan, dan sebab ketaatan itu kami dapat memasuki pintu Surga. Bersama anak, keluarga, dan orang-orang terkasih.

Video itu mengingatkan penulis akan visi Surga. Video yang mengingatkan penulis juga pengemban dakwah dan pejuang Islam agar tidak gentar pada kezaliman penguasa dan selalu ridlo dengan qadla-Nya. 

Terima kasih kepada tim kreatif Jatim yang telah membuat video itu. Sebuah video yang memberi batasan jelas, antara apa itu "perjuangan" dan apa itu "hiburan".

Video yang mengingatkan penulis untuk terus melanjutkan diskusi perjuangan bukan sekedar diskusi hiburan. Diskusi untuk melawan kezaliman Rezim dengan membongkar semua tipu daya rezim.

Semoga kita semua dapat Istiqomah menapaki jalan dakwah. Semoga, kita semua dapat menjadi generasi Islam yang tangguh, yang akan mengembalikan kemuliaan peradaban Islam. [].

Follow IG : @lbhpelitaumat

No comments