Headline

ILF #2 Tangerang : Konstitusi Di Atas Kitab Suci ?

  
Tangerang – Ratusan tokoh umat yang terdiri dari kalangan Lawyer, Mubaligh, Mubalighoh, tokoh masyarakat, hingga mantan anggota dewan menghadiri diskusi hukum yang digelar oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pelita Umat Koordinator Cabang (KORCAB) Tangerang, Ahad (1/03).

Acara yang bertajuk Islamic Lawyers Forum (ILF) ini digelar di ballroom salah satu hotel di Tangerang. Pada edisi ke-2  mengangkat tema Konstitusi Diatas Kitab Suci?. 

Abu Miqdad, Penasehat LBH Pelita Umat Korcab Tangerang membuka acara dengan menyampaikan keynote speech. Dalam sambutannya dirinya menegaskan  bahwa sebagai seorang muslim harus memposisikan ayat suci itu lebih tinggi dari konstitusi,  Ini konsekuensi bagi seorang muslim yang yakin bahwa ayat suci merupakan harga mati di atas undang-undang apapun.

Sebelum agenda diskusi hukum dimulai, para peserta ILF memanjatkan doa keselamatan untuk kaum muslimin di India. 

Mengawali sesi diskusi yang  dipandu Mabsus Abu Fatih selaku host , Wahyudi Al-Maroky (Direktur Pamong Institute) menjelaskan, “Di era Rezim Jokowi saat ini, banyak pejabat yang bicara tidak dipikir dahulu, padahal semestinya kalaulah belum bisa menyejahterakan dan membahagiakan rakyatnya, setidaknya mereka bisa menyejukkan dengan ucapannya, bukan malah membuat gaduh bingung"

Sekjen GNPF Ulama, Edy Mulyadi dalam penjelasannya menegaskan,  "Pernyataan-pernyataan ketua BPIP yang menganggap  musuh terbesar pancasila adalah agama, konstitusi harus menggeser kitab suci, assalamualaikum diganti dengan salam Pancasila, semakin menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Yaitu golongan orang-orang yang hendak memadamkan Cahaya Allah. Namun yakinlah bahwa Allah akan tetap menyempurnakan agamanya-Nya", paparnya.

Narasumber lain, Chandra Purna Irawan, S.H, M.H, Ketua KSHUMI menjelaskan bahwa Konstitusi itu dapat berubah sesuai dengan kesepakatan politik. Ia melanjutkan, "UUD 45 diamandemen empat kali itu sesuai kesepakatan politik. Kita memiliki tiga konstitusi yang diakui yakni, UUD 45, Konstitusi RIS serta UUDS, dan kita pernah memakai ketiganya. Ini artinya konstitusi bisa berubah sesuai kesepakatan politik", tandasnya dihadapan para tokoh yang hadir. 

"Secara formil, statement kepala BPIP ini tidak berbasis konstitusi, karena tidak ada satupun landasan hukum formil yang secara tegas menyebut di bawah konstitusi ada kitab suci atau yang lain. Harusnya orang sekelas kepala BPIP itu sebelum memberikan pernyataan kepada publik, melakukan kajian ataupun mitigasi terhadap apa yang akan disampaikannya", demikian tegas Ahmad Khozinudin, SH, Ketua LBH Pelita Umat dalam uraian penjelasannya.

Ia menambahkan, “Hari ini ketika konstitusi tidak diadopsi dari kitab suci, kita ini meskipun muslim, tetapi berstatus muslim dzimmah. Apa itu muslim dzimmah? Kebalikannya dari kafir dzimmi. Yakni orang muslim yang tunduk pada kekuasaan dan hukum sekuler, hukum jahil! Hari ini memang agama kita diposisikan rendah. Aturan Allah harus disesuaikan dulu dengan aturan yang bersumber dari manusia."

Ihsan Azhari, M.Pd. (Ketua LPSI Sirojul Ummah) juga mengingatkan pentingnya Dakwah menyampaikan kebenaran yang merupakan perkara besar. “Maka Ikutilah orang-orang yang mengemban dakwah menuju syariahNya. Terus istiqomah mengontak para pemimpin, orang-oarng yang memiliki posisi, para jendral, para tokoh umat. Karena pertolongan Allah itu ibarat pesawat yg pasti akan turun mendarat. Tentunya harus ada landasan yang disiap untuk turunnya pesawat itu. Inilah yang harus dilakukan para tokoh umat, membentuk kesadaran kolektif untuk Bersama berjuang tegakkan Syariah & khilafah!”, pungkasnya.

Di akhir acara, KH. Nurkholis (ketua forum ulama Tangerang/ FUTAR) bersama tokoh umat memberikan dukungan untuk ketua LBH Pelita Umat dengan membacakan pernyataan sikap terkait penolakan persekusi serta kriminalisasi terhadap ulama dan aktifis dakwah termasuk lawyer pejuang Islam Ahmad Khozinudin, SH yang saat ini sedang mengalami upaya kriminalisasi oleh aparat. 

Acara yang penuh kehangatan tersebut ditutup dengan pembacaan doa yang dibawakan oleh Ulama Kharismatik Kota Tangerang yang akrab KH DR. Ahmad Suhaemi atau yang sering disapa  Ki Eces, yang dilanjutkan dengan foto dan makan Bersama. []mk

No comments