Headline

INDONESIA JANGAN DIPERBUDAK CHINA

[Tanggapan atas tulisan Luhut Binsar Pandjaitan berjudul "INDONESIA JANGAN PHOBIA TKA"]

Oleh : Ahmad Khozinudin
====================


Meski saya memiliki usia terpaut jauh dari Luhut Binsar Pandjaitan, Namun dalam konteks diskursus berbangsa saya kira semua anak bangsa memiliki hak, kewajiban bahkan tanggung jawab yang sama untuk menyelamatkan negeri ini. 

Indonesia adalah negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Karenanya, dalam beberapa perspektif solusi, saya kira umat Islam juga memiliki hak yang sama untuk memberikan solusi bagi negeri ini dalam bingkai dan perspektif Islam.

Saya mengetahui sosok Luhut Binsar Pandjaitan bukan hanya dari sumber umum. Komunikasi saya secara pribadi, dengan beberapa elemen termasuk purnawirawan TNI (khusunya Kopassus) membuat saya merasa "cukup memahami" sosok seorang Luhut Binsar Pandjaitan.

Dari usia, saya tentu terpaut jauh dari Pak Luhut. Pada November tahun ini, usia saya baru mencapai angka 38 tahun. Sementara Luhut Binsa Pandjaitan, menurut sumber Wikipedia, saat ini telah berumur 72 tahun.

Saya belum memastikan apakah tulisan berjudul : INDONESIA JANGAN PHOBIA TKA, adalah benar karya Luhut Binsar Pandjaitan. Mengingat, di era sosmed seseorang bisa menulis apapun dan atas nama siapapun.

Namun untuk menghindari distorsi dan mispersepsi arah tulisan, maka saya menegaskan tulisan ini diperuntukkan secara khusus untuk menanggapi sebuah artikel berjudul : JANGAN PHOBIA TKA, yang disebutkan ditulis oleh Luhut Binsar Pandjaitan, terlepas apakah benar ini tulisan Luhut Binsar Pandjaitan atau bukan.

Saya ingin membuat penegasan awal bahwa keberpihakan pemerintah  (dimana Luhut Binsar Panjaitan ada didalamnya) sangat pro China lebih khusus pada TKA China, bukanlah sesuatu yang musykil. Publik, telah melihat secara langsung bagaimana Pemerintah begitu memanjakan TKA China.

Bahkan, disaat situasi pandemik Covid-19, disaat semua negara menutup akses dari dan ke China -karena diketahui sejak awal virus Covid-19 berasal dari China- kebijakan pemerintah malah pro China.

Saya tidak ingin mengaitkan isu TKA China ini secara langsung dengan sosok Luhut Binsar Pandjaitan. Saya juga tidak akan menyebut Pak Luhut lebih berbahaya dari virus Corona sebagaimana disampaikan ekonom senior Faisal Basri.

Tapi, saya ingin memaparkan sejumlah Fakta yang mengaitkan sosok Luhut Binsar Pandjaitan dengan TKA China. Dengan demikian, tidak ada narasi publik "mengaitkan" seorang Luhut Binsar Pandjaitan, tetapi fakta yang berbicara demikian.

Misalnya saja saat rakyat khawatir tertular virus Corona yang berasal dari Wuhan, China, meminta pemerintah waspada terhadap Wisatawan dari China, Pak Luhut malah berdalih Wisman China hanya 2 juta saja dan mempersoalkan publik ribut terhadap itu. (20/2/2020).

Saat virus Corona belum ada kepastian tentang masa berakhirnya, Pak Luhut justru ingin tenaga kerja asing (TKA) asal Cina bisa segera kembali ke Indonesia. Menurutnya  terhambatnya arus balik TKA Cina di Indonesia yang pulang saat imlek memberi dampak negatif ke perekonomian Indonesia. (20/3/2020).

Saat publik marah karena 49 TKA China masuk ke Indonesia melalui Kendari, Pak Luhut malah meminta agar hal semacam ini tidak dibesar-besarkan. (18/03/2020).

Saat Indonesia diserang pandemik, saat rakyat meminta negara membuat skala prioritas bagi keselamatan dan nyawa rakyat, meminta menunda proyek pindah ibukota, Luhut Binsar Pandjaitan tetap memastikan persiapan pemindahan. Padahal, publik juga paham mayoritas investor berasal dari China.

Adapun tanggapan saya atas sejumlah poin yang disampaikan Pak Luhut, sebagai berikut :

1) Soal Para WN Tiongkok yang dimaksud sebagai TKA, menggunakan visa kunjungan B211 yang berlaku 60 hari. Yang diterbitkan pada tanggal 14 Januari 2020 di KBRI Beijing. 

Ini persoalannya tak sekedar aspek legalitas, tetapi aspek psiko Sosial dan asas keadilan bagi rakyat Indonesia. 

Disaat rakyat tidak boleh keluar rumah, menerapkan physical distancing, beberapa Pemda menerapkan PSBB, lah ini kok TKA China bebas melenggang ke NKRI ? Apakah hanya dalih telah di tes dan sesuai Permenkumham Nomor 51 Tahun 2016, TKA ini bebas melenggang ke NKRI ? Cari makan di negeri ini ? Sementara rakyat tak boleh keluar rumah ?

Apakah, rakyat negeri ini lebih berpotensi menularkan virus Corona ketimbang TKA China ? Apakah, virus Corona berasal dari kampung Cikajang, bukan dari Wuhan ? Sehingga, anak negeri diminta mengunci diri dirumah, physical distancing, PSBB, tetapi TKA China bebas keluyuran.

Jadi, nampaknya para pemangku kebijakan di negeri ini gagal memahami suasana batin rakyat. Nampaknya, para pemangku kebijakan di negeri ini tak lagi mampu menimbang rasa dan menggunggah empati.

2). Soal Sebelum masuk ke Indonesia mereka telah dikarantina di Thailand sejak tanggal 29 Februari hingga 15 Maret 2020. 

Lagi-lagi, jika pertanyaannya dibalik apakah seluruh rakyat yang diminta berdiam dirumah telah terinfeksi Covid-19 ? Apakah semua rakyat berstatus PDP sehingga lebih membahayakan ketimbang TKA China ? Apakah kebijakan Physical Distancing itu hanya berlaku untuk rakyat Indonesia namun dikecualikan bagi TKA China ?

3). Mengenai Pada tanggal 15 Maret 2020, WN Tiongkok tersebut mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Dan kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh KKP Soekarno Hatta yang telah menerbitkan surat rekomendasi berupa kartu kewaspadaan kesehatan pada setiap orang. 

Lagi-lagi, rupanya para pemangku kebijakan memang tak paham suasana kebatinan rakyat. Mengelola negara tak an sich soal hal teknis medis dan aspek administratif. Tapi juga soal keberpihakan kepada rakyat.

Soal Kantor Imigrasi membenarkan bahwa pada tanggal 15 Maret 2020 pukul 20.00 WITA, sebanyak 49 Warga Negara Tiongkok. Warga Negara Tiongkok tersebut disebut memiliki dokumen perjalanan yang sah dan masih berlberlaki, dan yang lain, saya kira kata kuncinya bukan pada soal aturan dan aspek medis, termasuk hal administratif. 

Namun, ini soal kebijakan, keberpihakan, Nurani dan empati. 

Adapun soal tambang, soal sumber daya alam, soal kekayaan yang dalam Islam terkategori 'Milkiyatul Ammah (Kepemilikan Umum)', maka menurut pandangan Islam haram hukumnya memberikan kekayaan tersebut untuk dikelola swasta, asing maupun dalam negeri.

Kenapa dalam Islam hanya negara yang boleh mengelola tambang ? Jawabnya, agar benefitnya benar-benar untuk rakyat. Bukan masuk kantong cukong.

Dalam hal ini saya tidak akan mendebat di Morowali, Luhut Binsar Pandjaitan minta nikel “ore” itu dibuat mulai dari bijih nikel turun menjadi stainless steel, lalu carbon steel, sampai menjadi baterai lithium. 

Termasuk juga proses recycling-nya. Sehingga Indonesia bisa menjadi pemain kelas dunia dalam produksi baterai lithium dalam lima tahun ke depan.

Tetapi ini terkait Islam yang mengharamkan tambang tersebut dikelola swasta, apalagi swasta asing China. Tak benar pula dengan dalih Karena sulit sekali mencari tenaga kerja Indonesia dengan skill yang dibutuhkan di bidang Industri Baja, kemudian Indonesia import TKA China. 

Orang Indonesia itu super kreatif, jangankan pekerjaan tambang yang jelas terindera dengan dukungan teknologi, pekerjaan tambang yang mengandalkan lorong kecil pun bisa dikerjakan.

Semestinya, Pak Luhut jujur saja bahwa investasi tambang China itu mewajibkan Indonesia menerima TKA China. Jadi, China mau numpang usaha menambang di Indonesia untuk membuka lapangan pekerjaan untuk TKA China.

Kalau ini alasannya, menjadi jelas. Tak perlu muter-muter berdalih alasan skill TKI tak memadai. Apalagi, melambungkan eksistensi universitas-universitas yang hanya akan menghasilkan mahasiswa kuli yang diproyeksikan akan mengabdi pada industri China.

Mari berfikir tulus untuk bangsa, bukan menyelipkan kepentingan pribadi pada diksi "demi bangsa". Mari distribusikan kekayaan negeri ini yang merupakan karunia Allah SWT, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sikap anti TKA China tanpa alasan dan argumentasi tentu dapat disayangkan, meskipun hal itu adalah hak.

Namun mengunggah diksi 'Demi Bangsa' mengunggah jasa seolah hanya diri yang paling memiliki saham atas NKRI, termasuk mengumbar narasi demi masa depan anak cucu bangsa ini -padahal substansinya hanya berjuang demi pribadi, kelompok usaha dan golongannya-, pada hakekatnya adalah bentuk pengkhianatan nyata kepada bangsa dan negara.

Pesan saya sederhana : Indonesia jangan diperbudak oleh Negara China. [].

No comments