Headline

KHILAFAH AJARAN ISLAM, DAKWAHNYA IBADAH BUKAN KRIMINAL


[Catatan Diskusi ILF edisi April 2020]


Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dewan Pembina LBH Pelita Umat)


Bahagia sekali rasanya bisa ikut diskusi ILF (Islamic Lawyers Forum) edisi April 2020. Diskusi bulanan Para aktifis LBH dan pakar Hukum itu, bulan ini dilakukan secara on line. Ini merupakan edisi spesial di tengah merebaknya wabah corona. Tema yang dibahas kali ini, “Adakah Kriminalisasi Khilafah pada Kasus Baharsyah?”
Hadir sebagai nara sumber pada diskusi ini, DR. Abdul Chair Ramadan (ahli Pidana), Azam Khan, SH (aktifis/Lawyer), Imam Hanafi (LBH Pejabat), dan Chandra Purna Irawan, SH, MH (LBH Pelita Umat/ Kuasa Hukum Baharsyah). Penulis sendiri diundang sebagai Keynote Speakers oleh Presiden ILF Bang Ahmad Khozinuddin, SH.
Ada 4 (empat) catatan penting yang dibincangkan dalam diskusi kali ini. 1) persoalan kasus Ali Baharsyah terkait pasal Penghinaan Presiden dan tuduhan ujaran terhadap etnis serta isu pornografi. 2) masalah dakwah khilafah dianggap sebagai ajaran berbahaya. 3) masalah isu Khilafah yang dikaitkan dengan pasal 107 tentang Makar. 4) masalah dukungan kepada muslim Uyghur yang dizalimi pemerintah cina.
Dari diskusi ILF ini maka dapat kita pahami hal sebagai berikut:
PERTAMA, terkait tuduhan pornografi. Berdasarkan Surat Nomor : B/30/IV/2020/Ditpidsiber tanggal 1 April 2020, Perihal Dimulainya Penyidikan, Surat Ketetapan Nomor : S.Tap/59/IV/2020/Ditsiber, Tentang Status Tersangka, Surat Nomor : SP.Han/2.3/IV/2020/Ditsiber, tentang Perintah Penahanan, DIDALAMNYA TAK ADA SATUPUN PASAL YANG MEMUAT STATUS TERSANGKA BERDASARKAN UU PORNOGRAFI YAKNI UU NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PORNOGRAFI.
Dalam proses Pemeriksaan yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang didampingi oleh Tim hukum LBH Pelita Umat, tidak ada satupun materi pertanyaannya terkait pornografi.
KEDUA, terkait dengan paham Khilafah yang diunggah melalui sosial media termasuk Facebook. Mendakwahkan Khilafah dianggap intoleran dan membahayakan.
Padahal empat Imam mazhab telah membahas wajibnya Khilafah sebagai ajaran Islam. Apakah ada yang merasa lebih paham tentang khilafah daripada empat imam Mazhab besar itu? Khilafah sebagaimana ajaran islam yang lain seperti shalat, puasa, zakat, dll.
Menjelaskannya dan Mendakwahkannya di tengah-tengah umat merupakan amal sholih dan bagian dari ibadah. Ini sebagaimana menjelaskan hukum tentang sholat, puasa, zakat dll. Ini bagian dari mengamalkan ajaran agama yang dijamin konstitusi.

Apalagi Khilafah itu merupakan warisan Rasulullah yang laksanakan oleh para Khalifah setelah Rasulullah wafat. Kalaulah saat ini belum bisa diterima dan dilaksanakan sebagaimana juga saat ini sholat dan puasa juga belum dilaksanakan oleh sebagian orang, maka bukan berarti ajaran sholatnya yang ditolak. Bukan pula, dikatakan sholat tertolak atau jadi tidak wajib.
KETIGA, Apakah mendakwahkan khilafah dan mengunggahnya di medsos bisa dituduh Makar? Sebagaimana dijelaskan kuasa hukum Ali, ia dikenakan pasal 107 KUHP tentang makar karena mengunggah gagasan khilafah melalui Facebook. Menurut kuasa hukumnya, bahwa Penyidik memperlihatkan sejumlah screbshoot berisi video tentang dakwah khilafah dalam proses pemeriksaan (BAP).
Tuduhan Makar atas dakwah khilafah merupakan suatu kezaliman yang besar. Apalagi tuduhan makar menggunakan sosmed (FB), itu jelas sangat mengganggu akal waras publik. Tentu para penegak hukum paham istilah makar itu. Apalagi para ahli hukum. Namun jika tetap dipaksakan dakwah khilafah dikatakan makar, lalu apa kata dunia nanti?
KEEMPAT, pembelaan muslim Uyghur dari kezaliman pemerintah cina. Bang Ali dipersoalkan dengan pasal 45A ayat (2) Jo. Pasal 28 ayat (2) UU No 19 tahun 2016 Tentang Perubahan UU No 11 tahun 2008 tentang ITE dan/atau pasal 16 Jo pasal 4 huruf b angka 1 UU No 40 tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, karena unggagan video yang mengkritik kebijakan zalim Rezim Komunis China terhadap Muslim Uighur di Xinjiang yang dianiaya, ditindas, diintimidasi, dipaksa melepaskan akidahnya dan membandingkannya dengan Etnis China di negeri ini yang aman dan mendapatkan kebebasan dalam menjalankan ibadahnya, mendirikan rumah ibadah, menjadi pejabat bahkan menjadi orang paling kaya. Video ini dianggap Rasis dan Menebar Kebencian berdasarkan SARA.
Padahal Menyampaikan pendapat dan memberikan pembelaan terhadap muslim Uyghur-cina yang sedang dizalimi oleh rezim cina merupakan amal sholih. Justru kalau diam atas kezaliman itu termasuk zalim.
Mengapa justru dituduh menyebarkan kebencian dan SARA? Semestinya negara berterima kasih kepada warganya yang sudah menyampaikan pembelaan atas penindasan muslim uyghur.

Bukankah dalam konstitusi negara wajib ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dan perdamaian dunia? Justru bukan malah diam dan mengkriminalisasi.
Di tengah merebaknya wabah corona, semestinya setiap kita semakin hati-hati dan banyak doa minta perlindungan hukum kepada Allah. Semakin banyak ibadah dan tinggalkan berbagai perbuatan maksiyat dan kezaliman.
Bersamaan dengan Kebijakan rezim membebaskan puluhan ribu Narapidana, ternyata malah terjadi penangkapan aktifis islam. Publik patut bertanya, kenapa Napi yang jelas terbukti dipengadilan itu ramai-ramai dibebaskan tapi justru aktifis islam yang belum jelas salahnya malah ditangkap?
Siapa pun kita pastilah akan menghadap sang Pencipta Alam semesta. Tak akan ada yang kebal dengan kematian. Jika sekarang ada yang kebal hukum maka itu sangat sebentar saja ketikan didunia dan sedang berkuasa.
Kelak setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Dan pertanggungjawaban diakhirat akan menggunakan standar hukum Allah, bukan Undang-undang atau KUHP saat ini. maka betsegeralah taat kepada hukum-hukum Allah.
Tabiik.

No comments