Headline

MENYERUKAN KHILAFAH DITUDING MAKAR?

[Catatan Advokasi dan Pembelaan Hukum terhadap Saudara Alimudin Baharsyah]

Oleh : Ahmad Khozinudin, SH
Ketua LBH Pelita Umat


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabat semua,

Dibelakang saya adalah orang-orang hebat. Mahasiswa-mahasiswa dari seluruh Sumatera, mulai dari Aceh sampai Lampung. Kami siap menegakkan khilafah. Kami siap menegakkan khilafah.

Khilafah, khilafah, khilafah, Allahu Akbar !"

[Transkrip Video yang dijadikan Bukti Penyidik Ditsiber Polri].


Ali Baharsyah atau Alimudin Baharsyah ditetapkan sebagai Tersangka dengan pasal berlapis. Salah satunya, Ali Baharsyah ditetapkan sebagai Tersangka karena dituduh melakukan makar melalui media sosial Facebook berdasarkan ketentuan pasal 107 KUHP.

Pasal 107 KUHP berbunyi :

1. Makar (aanslag) yang dilakukan dengan niat menggulingkan pemerintahan (omwenteling), dihukum penjara paling lama lima belas tahun.

2. Pemimpin dan pengatur makar dimaksudkan dalam ayat pertama, dihukum penjara seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.

Anehnya, saat Pemeriksaan Penyidik menunjukkan screenshot video yang merupakan rekaman video wefea yang dibuat oleh Ali Baharsyah pada Desember 2018 di Kota Padang. Video ini dibuat saat agenda kegiatan Rapat Koordinasi Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus dimana Ali Baharsyah ketika itu menjabat sebagai Ketua Koordinator Nasional.

Dalam pernyataannya yang dikutip berbagai media, Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Himawan Bayu Aji menyebut telah memantau Ali Baharsyah sejak 2018. Ali dituding ingin menyebarkan paham yang diyakininya dan dianggap Penyidik berbahaya.

Keterangan ini sejalan dengan materi Penyidikan yang berulang kali mempersoalkan ajaran Islam khilafah. Video wefea Ali yang menyerukan Khilafah dijadikan bukti Perkara.

Polri tidak mau terbuka, tentang paham apa yang dimaksud. Polri hanya menyebut sedang mengkajinya.

Namun berbeda dengan fakta pemeriksaan di Mabes, Penyidik berulang kali menanyakan dan mempersoalkan khilafah. Bahkan, Penyidik berdalih pada keputusan pemerintah yang telah mencabut badan hukum ormas tertentu yang perkaranya sudah selesai di pengadilan.

Ricky Fattamazaya Munthe, salah satu kuasa hukum Ali Baharsyah berulang kali menjelaskan bahwa khilafah adalah ajaran Islam. keputusan Pencabutan badan hukum Ormas tidak menyebut khilafah sebagai ajaran terlarang. 

Jika benar, Polri belum memastikan status hukum Khilafah dan baru akan mengkajinya, kenapa Polri langsung menangkap Ali Baharsyah dan menetapkannya dengan status tersangka Pidana Makar ?

Polri telah mengawasi Ali Baharsyah sejak tahun 2018, tentu juga mengamati aktivitas penyebaran "paham" yang diyakininya. Kenapa hingga 2020 Polri belum memperoleh simpulan atas kajiannya ? Kenapa pula Polri sudah menangkap, memenjarakan orang dan merampas kemerdekaan warga negara, padahal belum memiliki keyakinan atas dasar penangkapan terkait "paham" yang dilarang itu ?

Sudahlah, penulis menghimbau kepada Ditsiber Polri untuk jujur. Tidak perlu berlindung dibalik kalimat bersayap "paham yang diyakininya" kemudian menuding paham tersebut sebagai paham terlarang.

Jujur saja, Ali Baharsyah ditangkap karena menyerukan khilafah, karena video yang dijadikan bukti adalah video seruan khilafah bersama Mahasiswa se - Sumatera. 
Jujur saja, bahwa yang dimaksud "melakukan makar melalui sosial media Facebook" adalah seruan Ali Baharsyah bersama Mahasiswa untuk memperjuangkan khilafah.



Biar umat ini paham, bahwa rezim ini anti ajaran Islam Khilafah. Rezim ini anti dakwah khilafah. Rezim ini "mengharamkan" aktivitas dakwah khilafah.

Tidak perlu menyebar fitnah konten pornografi. Tidak perlu melakukan "pembusukan" terhadap karakter dan pribadi Ali Baharsyah sebagai pengemban dakwah Khilafah.

Sakit sekali menjadi umat Islam di negeri ini. Mendakwahkan ajaran Islam khilafah secara lisan dituding Makar. Sementara OPM, yang jelas angkat senjata, jelas melakukan pembunuhan terhadap sipil bahkan terhadap anggota TNI dan Polri tak pernah disebut makar. [].

No comments