Headline

PERNYATAAN BERSAMA LBH PELITA UMAT DAN KSHUMI DALAM RAPAT NASIONAL ADVOKAT DAN SARJANA HUKUM MUSLIM INDONESIA TAHUN 2020

Kami melihat dan menyaksikan, bahwa problem yang mendera bangsa ini adalah problem sistemik, multi dimensi, yang memerlukan penyelesaian secara sistematis dan komprehensif. 

Kami menyadari, setiap ikhtiar dan usaha penyelamatan negeri selalu berujung pada kegagalan, disebabkan tidak berpangkal pada penyelesaian problem inti dan tidak mengadopsi solusi yang hakiki.

Berkenaan dengan itu, kami Advokat dan Sarjana Hukum Muslim Indonesia yang terhimpun dalam LBH Pelita Umat dan KSHUMI, melalui agenda Rapat Nasional Advokat dan Sarjana Hukum Muslim Indonesia Tahun 2020 ini menyatakan :

  1. Bahwa akar masalah dari segenap problematika yang mendera negeri ini berpangkal pada ketidaktaatan manusia pada Allah SWT, keengganan dan ingkarnya manusia menerapkan hukum Allah SWT, bahkan menjadikan Allah SWT sebagai musuh melalui berbagai tindakan kriminalisasi terhadap ajaran Islam dan para pengembannya;
  2. Bahwa problem ikutan sebagai bagian dari problem cabang, seperti masalah korupsi, bencana Kesehatan, bencana ekonomi, masalah hukum yang tidak adil, politik yang pragmatis, sistem politik yang menyebabkan minimnya aktor negarawan dan hanya menghasilkan para politisi, perampokan sumber daya alam oleh asing, serbuan TKA China, dan sederet problem lainnya tidak akan pernah tuntas sebelum bangsa ini menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
  3. Bahwa serangkaian tindakan berbagai anak bangsa, yang mengambil inisiatif secara aktif mengingatkan bangsa ini, agar menjadi bangsa yang taat kepada Allah SWT, agar mau menerapkan syariah Allah SWT, wajib dipahami sebagai aset umat yang wajib dijaga bukan justru mendapat perlakuan tidak adil, dipersekusi hingga dikriminalisasi;
  4. Bahwa setiap aktivitas kritik dan tindakan mengoreksi Pemerintah, dalam timbangan Konstitusi adalah termasuk dan terkategori hak kemerdekaan menyatakan pendapat. Sedangkan dalam timbangan agama Islam, kritik dan Muhasabah (nasehat atau koreksi) kepada penguasa, termasuk dan terkategori amalan dakwah, bahkan aktivitas ini adalah seruan dakwah yang paling agung;
  5. Bahwa mewabahnya Covid-19, semestinya menjadi pemantik bagi bangsa ini untuk bersatu dan menyatukan visi umat untuk bersama-sama menyuarakan syariah Islam secara kaffah dan menerapkannya untuk mengatur pemerintahan dan Negara. Sebab, hanya Islam-lah satu-satunya solusi ideologi yang tersisa, setelah sosialisme komunisme dan Kapitalisme liberalisme terbukti gagal membangun, memakmurkan dan menjaga peradaban manusia;
  6. Bahwa disituasi pandemi ini, wajib saling mengunggah empati, menerima kritik dan masukan secara lapang, bukan membungkamnya dengan kriminalisasi, penangkapan dan pemenjaraan. Kasus-kasus yang menimpa para aktivis termasuk apa yang dialami oleh Habib Rizq Syihab, Gus Nur, Ust Alfian Tanjung, Ahmad Dani, Eggi Sudjana, Jon Ru, Ali Baharsyah, dan yang lainnya, semestinya tidak perlu terjadi jika bangsa ini mampu berlapang dada menerima seruan dakwah, menerima kritik dan masukan, menghargai perbedaan dan menanggapi pikiran dengan pikiran bukan dengan penangkapan;
  7. Bahwa dalam kasus Ali Baharsyah, kami menilai adanya dugaan kuat kriminalisasi terhadap ajaran Islam khilafah dan para pengembannya, ditilik dari bukti yang dipermasalahkan dan pasal-pasal yang dijadikan dasar pemeriksaan. Karena itu, Negara harus segera menghentikannya, sebab jika tidak dikhawatirkan bangsa ini akan semakin terpuruk karena melakukan kezaliman terhadap ajaran Islam dan para pengembannya.

Demikian pernyataan dibacakan,


Jakarta, 30 April 2020
Atas nama LBH Pelita Umat dan KSHUMI

TTD


Ahmad Khozinudin, SH
Chandra Purna Irawan, SH MH

No comments