Headline

MENYOAL KEBEBASAN BERPENDAPAT DAN KONSTITUSIONALITAS PEMA'ZULAN PRESIDEN DI MASA PANDEMI COVID-19

[Catatan Hukum Diskusi Kritis Para Tokoh Nasional Ditengah Pandemi Covid-19]

Oleh: Ahmad Khozinudin, SH
Ketua LBH Pelita Umat


Diberbagai forum GWA dan laman Facebook, penulis mendapat poster publikasi diskusi bertema "Menyoal Kebebasan Berpendapat dan  Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19".

Dalam sebuah pesan daring yang beredar, diinfokan penyelenggara diskusi Webinar Nasional adalah Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (MAHUTAMA) dan Kolegium Jurist Institute (KJI).

Acara ini rencana diadakan pada hari Senin, tanggal 1 Juni 2020, Pukul 10.00 - Selesai.

Hadir sebagai Keynote Speaker Prof. Dr. KH. M. Din Syamsuddin, MA.
(Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat). Pembicara yang disebutkan dalam poster ada Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, M. Hum. (Ketua Umum MAHUTAMA), Prof. Susi Dwi Harijanti, LL.M., Ph. D. (Guru Besar FH UNPAD), Prof. Denny Indrayana, LL.M., Ph. D (Mantan Wamenkumham RI), Prof. Dr. Suteki, M. Hum. (Pakar Filsafat Pancasila), Dr. Refly Harun, M.H., LL.M. (Ahli Hukum Tata Negara), Dr. Ahmad Redi, M.H (Direktur Eksekutif KJI), Dr. Ibnu Sina Chandranegara, M.H (Wakil Dekan I FH UMJ, Dr. M. Ilham Hermawan, M.H. (Pakar Hukum Tata Negara), dan Bivitri Susanti, LL.M. (Pengurus APHTN-HAN).

Entah, Apakah ini merupakan respons dan perlawanan kaum intelektual atas batalnya diskusi hukum di UGM akibat adanya teror dan ancaman, yang jelas tema yang diangkat secara substansi sama, yakni : Membahas Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19.

Diskusi ini menjadi sangat terkait dengan batalnya diskusi mahasiswa UGM yang tergabung dalam Constitutional Law Society (CLS). Sebab, tema pengantarnya adalah menyoal kebebasan berpendapat baru kemudian dilanjutkan membahas Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19.

Baik terkait dengan kasus diskusi di UGM atau ini adalah diskusi independen, yang jelas diskusi ini menimbulkan gairah intelektual. Publik, menjadi merasa tentram sebab kaum intelektual tidak mengambil pilihan diam dan tiarap, pasca tragedi teror dan intimidasi diskusi hukum di UGM.

Lebih jauh, hadirnya diskusi ini memantik optimisme penulis tentang asa kebangkitan kaum intelektual, untuk melawan tirani rezim yang berbalut topeng kedunguan.

Dalam artikel berjudul "UGM DAN ASA KEBANGKITAN NASIONAL KAUM INTELEKTUAL, KEBANGKITAN ILMU MELAWAN TIRANI REZIM BERTOPENG KEDUNGUAN", Penulis pada paragraf akhir sempat menulis :

"Semoga, dari UGM ini lahir banyak komunitas diskusi ilmiah dan kajian intelektual diberbagai universitas di Indonesia. Semoga, dari UGM ini muncul lagi banyak otoritas kampus yang berani berdiri tegak menjadi pelindung, pengayom dan pembela bagi setiap insan akademis yang dipersoalkan karena tugas-tugas dan aktivitas meruhanikan ilmu."

"Sebab, kedunguan dan tiranisme tak mungkin bisa dilawan dengan diam. Kedunguan dan tiranisme wajib dilawan dengan suara-suara kaum intelektual, insan kampus, yang murni bertindak atas dasar ilmu, bukan karena tendensi politik atau motifasi kekuasaan."

"Semoga, kedepan akan ada "koalisi akademisi" yang akan mengikrarkan sumpah untuk saling setia dan melindungi, menjaga dan memastikan nalar ilmu dan intelektual tetap suci, tak boleh dijamah dan dinodai oleh tangan kotor para penguasa tiran. Semoga."

Kiranya tidak terlalu berlebihan, jika penulis berasumsi diskusi Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (MAHUTAMA) dan Kolegium Jurist Institute (KJI) ini adalah jawaban dari harapan penulis dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Yakni, harapan kebangkitan kaum intelektual nasional untuk menyuarakan ilmu dan kebenaran.

Kebangkitan kaum cendekiawan dan cerdik pandai, yang berani berdiri tegak membongkar topeng kedunguan, kepalsuan, kebohongan dan kezaliman. Kebangkitan insan kampus, yang kembali pada jati diri dan visi meruhanikan ilmu, dalam setiap kesempatan dan dalam segala ruang interaksi.

Semoga, acara diskusi Webinar Nasional ini berjalan lancar, Amien yarobbal alamien. [].

No comments