Headline

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1441 H

[Catatan Ucapan Lebaran LBH Pelita Umat]


Oleh : Ahmad Khozinudin, SH
Ketua LBH Pelita Umat 


Tidak terasa, segenap kaum muslimin telah sampai pada hari yang dinanti, hari Nahar, Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Meskipun dirayakan ditengah suasana pandemi, rasa kebahagiaan berjumpa dengan hari kemenangan,  sedikit mengkompensasi berbagai duka dan kepedihan.

Ya, Idul Fitri ditengah Pandemi, ditengah kezaliman rezim, ditengah tidak jelasnya negara merancang program melawan virus Corona, ditengah Negara plin plan menerapkan kebijakan, dan yang jelas ditengah rakyat yang menjadi korban kezaliman.

Kriminalisasi, sepanjang musim Pandemi ini bukan berarti berhenti atau rezim mengambil opsi berdamai sementara dengan rakyatnya dengan menghentikan kriminalisasi. Nama-Nama seperti Said Didu, Ali Baharsyah, hingga Habib Bahar Bin Smith, adalah prasasti Pandemi yang menjadi simbol kontras adanya kriminalisasi ditengah mewabahnya virus Corona.

Rezim memelas dan berusaha mencari jalan damai menghadapi virus Corona, namun sampai saat ini belum ada tanda Virus Corona berakhir. Menjelang akhir Mei dan menuju Idul Fitri 1441 H ini, grafik peningkatan korban justru meningkat pesat.

Cara menyikapi interaksi sosial ditengah masyarakat juga tidak Egaliter. Masjid dan syi'ar ibadah Islam (sholat Jum'at dan sholat idul Fitri), diperketat. Sementara aktivitas bandara, pasar, mal dan pusat perbelanjaan, begitu longgar dan dibebaskan.

Bahkan TKA China dibiarkan bebas masuk ke negeri ini, ditengah rakyat dipaksa dirumah. Ditengah rakyat menahan diri dirumah, tanpa ada kejelasan siapa yang menanggung kebutuhan hidup dasar mereka.

Hal itu memicu sentimen umat Islam, kenapa diperlakukan secara tidak Egaliter. Muncul berbagai protes, atas ketidaktegasan, ketidakegaliteran, ketidakadilan yang mereka rasakan.

Situasi negara juga kian tidak jelas. Utang semakin menumpuk, rasio utang terhadap PDB telah diangka 6 % lebih, melampaui batas ambang hukum besi anggaran. Namun karena ada Perppu Covid-19, pelanggaran hukum besi anggaran ini tidak berujung pema'zulan Presiden.

Dalam norma Perppu Covid-19, salah satu Pembiayaan APBN akan ditopang dengan pengurangan jumlah kepemilikan modal pemerintah di BUMN. Artinya, ada sejumlah saham BUMN akan dilepas untuk cari hepeng, demi membiayai APBN.

Dalam realisasi, Pemerintah malah akan menambah PMN yang akan diberikan kepada lima BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah. Dana PMN yang dianggarkan mencapai Rp 25,27 triliun.

Ini jelas, antara rencana ekonomi dan realisasi tidak nyambung. BUMN yang semestinya menambah penghasilan Negara, minta "nyusu" anggaran Rp 25,27 Triliun, ditengah Pandemi, ditengah rakyat lebih membutuhkan bantuan langsung Negara ketimbang BUMN.

Rakyat, dalam situasi pandemi ini justru semakin dibebani. Harga BBM tak kunjung turun ditengah anjloknya harga minyak dunia. Iuran BPJS kesehatan kembali dinaikkan, setelah sebelumnya kebijakan menaikan iuran BPJS dibatalkan oleh Mahkamah Agung.

Kita juga tak tahu, Renstra Pemerintah untuk melawan Covid-19 pada era kedepan. Yang jelas presiden sudah menyerah mengajak rakyat berdamai dengan virus Corona. Wakil Presiden meminta maaf, karena pemerintah tak mampu menangani virus Corona.

Semua serba ambyar, tak jelas, tak ada konsistensi, tak ada kebijakan yang simultan, terintegrasi dan dibuat secara sistematik. Penanganan Covid-19 mirip komedi putar, atau lotre iseng-iseng berhadiah.

Terlepas dari itu semua, dihari nan Fitri ini, izinkan kami secara pribadi maupun kelembagaan, dengan segala kerendahan hati dan penuh penghormatan, mengucapkan selamat hari raya idul Fitri 1441 H. Mohon maaf atas segala salah dan khilaf, atas semua aktivitas dan kegiatan LBH Pelita Umat, baik yang berada di divisi pembelaan hukum, divisi diskusi hukum Islamic Lawyers Forum (ILF), Pusat Kajian dan Data, Koordinator Wilayah, Koordinator Cabang, diberbagai Provinsi, kota dan kabupaten seluruh Indonesia.

Kami sadar banyak berinteraksi dengan umat, dan kami menginsyafi banyaknya salah kata, sikap dan perbuatan dalam melakukan Kerja-kerja pembelaan, dalam rangka merealisir visi LBH Pelita Umat yakni "Membela dan Melayani Urusan Umat".

Kami memohon maaf kepada para ulama, Habaib, para tokoh. Aktivis pergerakan, dan seluruh kaum muslimin. Semoga, Ramadhan yang telah kita lewati, dapat membentuk pribadi kita semua sebagai pribadi yang taqwa, yang konsisten melaksanakan Amaliah dakwah Amar Ma'ruf nahi Munkar. [].

No comments